Feed on
Posts
comments

Kalo gua sama princess L lagi online, biasanya kita bikin cerita tertentu atau ngasih masukan buat cerita yang lagi dibikin masing-masing. Cerita ini adalah karangan gua dengan banyak masukan dari princess L. Boleh disimak kalo tertarik, hehehe…. 

-part 1-

Ray Jiang, seorang doker muda dari rumah sakit kecil di sudut kota tampak berlari-lari di tengah hujan mencari tempat berlindung. Baginya, hujan setelah jam pulang kerja seperti ini menyusahkan saja. Petir menggelegar di tengah malam, membuat sang dokter muda itu menghela napasnya panjang. Rupanya kerja kerasnya selama hari itu dibayar dengan hujan petir yang dahsyat dan membuatnya makin lelah saja setelah pekerjaannya seharian penuh. Mata Dokter Ray memandang sekitarnya yang terlihat buram karena tirai mistis yang terbentuk dari rintik hujan malam hari.

Tanpa sengaja matanya menangkap sebuah sosok yang terbaring di tengah jalanan yang basah karena air hujan. Rupanya seorang gadis muda, Dokter Ray tanpa pikir panjang cepat-cepat menolong gadis itu dan membawanya ke tempat yang teduh.

‘Buka matamu!! Kau tidak apa-apa, kan?! Hei!!!’

Naluri Ray sebagai seorang dokter merasakan ada yang tidak beres. Ia cepat-cepat membawa gadis itu ke rumahnya untuk memberinya perawatan lanjutan sebelum hal gawat terjadi.

Gadis itu masih muda, umurnya mungkin masih belasan dan tampak begitu menderita. Tubuhnya penuh dengan bekas luka, baik yang sudah lama maupun yang cukup baru dan napasnya berat.

‘Sundutan rokok, ada sayatan pisau juga, anak ini…’

Dokter Ray memperhatikan satu-satu bekas luka itu dan mengelusnya perlahan. Gadis itu perlahan membuka matanya dan kaget melihat Dokter Ray di sampingnya.

‘Kau siapa?!’

‘Tenangkan dirimu, aku Dokter Ray. Kau tadi tergeletak pingsan di taman saat hujan deras. Apa kau.. tidak apa-apa…?’

Gadis itu tampak mendung dan mengalihkan pandangannya.

‘Aku tidak apa-apa, Dokter… mungkin hanya butuh istirahat…’

Dokter Ray masih menatapnya tajam, gadis itu menyembunyikan sesuatu.

‘Kenapa kau bisa terluka seperti itu?’ 

‘…’ 

‘Jawab…’ 

‘… Bukan apa-apa…’

‘Tidak mungkin sebuah luka bisa muncul sendiri tanpa alasan.’

Gadis itu mulai menangis, 

‘Aku… tidak tahu…!!’ teriaknya. 

Tiba-tiba saja gadis itu terbatuk dan memuntahkan darah. Dokter Ray terkejut setengah mati dan cepat-cepat mengelus punggungnya serta mencarikan obat penenang untuknya.

‘Maaf, aku tidak tahu kondisimu parah sekali. Besok kau akan kubawa ke rumah sakit, mau menelepon keluargamu, barangkali?’ 

Gadis itu tampak begitu lemah di atas tempat tidur, ia menggenggam tangan Dokter Ray dan menggelengkan kepalanya.

‘Jangan… tolong, jangan…’ pintanya memelas dengan mata yang berkaca-kaca dan suara yang serak. Dokter Ray menghela napasnya. 

‘Baiklah, tapi jangan gegabah. Jika ada yang bisa kubantu, katakanlah. Tidurlah yang nyenyak malam ini…’ Dokter Ray mematikan lampu dan meninggalkan gadis itu dalam kamarnya sementara ia tidur di sofa.

‘Luka itu jelas bekas penganiayaan… Gadis yang malang…’ 

 

Keesokan harinya, Dokter Ray, kembali bersiap untuk menjalani kesehariannya di Rumah Sakit Rosemary, San Fransisco, tempat ia sehari-hari bekerja sebagai dokter junior di sana. Dilihatnya gadis kemarin masih terduduk di atas tempat tidurnya dengan pandangan sedih memandang ke luar jendela. Dokter Ray mendekati gadis itu dan menepuk pundaknya.

‘Ada apa di sana?’

Gadis itu terkejut dan menggelengkan kepalanya.

‘Tidak ada apa-apa…’

Tiba-tiba rasa sakit menyerang gadis itu dan ia dengan cepat meringkuk sambil memegang perutnya.

‘Ke..kenapa?!’ 

‘Tidak tahu… tapi… sakit…’ jawabnya lirih. 

Dokter Ray tidak membuang waktu lagi, segera diteleponnya ambulans untuk menjemputnya. Sementara menunggu, ia berusaha menenangkan gadis itu sembari melihat kesempatan untuk mengorek informasi tentang dirinya lebih dalam. 

‘Apa yang terjadi padamu? Apa kau bisa… cerita tentang itu?’

 Gadis itu tidak menjawab, hanya ekspresi sedih bercampur kesakitan memenuhi wajahnya dan membuat Dokter Ray semakin kasihan padanya.

Ambulans tiba tidak lama setelah, itu. Gadis itu segera dibawa ke ruang pemeriksaan sementara Dokter Ray berbicara dengan mentornya, sang kepala Rumah Sakit itu. 

‘…Begitulah, Dokter Austin. Gadis ini perlu ditolong secepatnya.’

Dokter Austin menghela napasnya. Dokter Ray muridnya, masih baru dan belum berpengalaman, namun bakatnya menarik perhatian. 

‘Ray, kita lihat saja nanti… Tapi percayalah, kami akan melakukan yang terbaik untuknya. Bukankah seorang dokter berkewajiban menyelamatkan nyawa pasiennya?’ 

‘Tidak itu saja, Dokter Austin… Seorang dokter harus berjuang agar pasiennya mau memperjuangkan hidupnya adalah tugasnya yang kedua. Aku khawatir gadis ini tidak memiliki semangat hidup lagi setelah penganiayaan yang dialaminya…’ 

‘Ray, apa yang mendasari pikiranmu itu? Tidak baik kau berbicara demikian tanpa bukti.’ 

‘Aku juga korban penganiayaan keluargaku sewaktu kecil…’ 

‘…’ 

‘Aku tahu persis bagaimana perasaannya dan kondisinya… Mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa…’ 

Dokter Austin tersenyum pada Dokter Ray dan menepuk pundaknya. 

‘Yaah, kalau begitu pasien ini kuserahkan padamu saja, sekedar untuk menjadi pelajaran, bagaimana?’ 

‘Eh?!’ 

‘Ray, dengarkan… Ini pasien pertama di bawah pengawasanmu.Kulihat kau memiliki potensi besar dalam menyelamatkan nyawanyadibandingkan denganku. Jangan mengecewakanku… Lakukan yang terbaik. Semoga berhasil, Ray! Selamatkanlah nyawanya…’ 

‘Si..siap, Dokter!!’

Setelah pemeriksaan yang cukup lama, seorang perawat bersama Dokter Christine, sang ahli kimia, keluar dari ruang pemeriksaan dan memberitahukan hasilnya pada Dokter Austin dan Ray. 

‘Pasien bernama Yvonne Zen, usianya masih 17 tahun. Diduga merupakan korban penganiayaan fisik berdasarkan luka-luka yang terdapat di tubuhnya. Korban mengalami depresi dan menolak menceritakan apa yang terjadi. Selain itu…’

Dokter Christine terdiam dengan wajah yang serius menatap paragraf terakhir dalam laporannya tersebut. 

‘Ada apa? Masalah serius?’ 

‘Sangat serius, Dokter Austin… Anak ini terinfeksi Nocturne rupanya…’ 

‘No.. nocturne?! Tidak mungkin!!’

‘Saya tidak main-main… reaksinya positif. Anak ini butuh perawatan intensif secepatnya.’ 

‘Dokter Austin, apa yang…’ 

‘Christine, pindahkan ia segera ke ruangan yang sesuai sementara aku akan berbicara dengan Ray. Lakukan yang terbaik!’ 

‘Siap, Dokter… Dokter Ray, kudengar pasien ini di bawah pengawasanmu. Kuharap kau tidak mengecewakan mengingat ini pasien pertama di bawah pengawasanmu… ‘

Dokter Christine berbalik dengan wajah yang dingin meninggalkan Dokter Ray dan Dokter Austin.

‘Ray, dengarkan… Ini masalah serius…’ 

‘Mengenai.. Nocturne?’ 

‘Ya…’ 

‘Dokter, apa itu sebenarnya?’ 

‘…Nocturne, virus berbahaya yang muncul beberapa tahun lalu akibat kebocoran fasilitas pemerintah. Sebenarnya virus ini adalah sebuah senjata biologis dan merupakan penyakit yang tidak tersembuhkan. Para dokter bekerja sama dengan para ahli kimia telah berhasil mengisolasi dan menekan kekuatan virus itu di udara hingga titik terendah, sebab memusnahkan semuanya adalah mustahil. Entah kebetulan apa yang membuat virus itu kembali hidup di tubuh gadis malang itu…’ 

‘Dokter..?’ 

‘Dari yang kulihat, virus di tubuh gadis itu belum terlalu ganas. Nocturne yang sebenarnya dapat menghabisi nyawa manusia hanya dalam waktu beberapa menit. Tapi terimalah kenyataan, Ray… Gadis itu.. ia tidak akan bertahan lebih lama dari dua musim semi di sini.’ 

‘Dokter!’ 

‘Ray, dengarkan… Pilihanmu ada dua. Gadis ini tidak memiliki keluarga yang akan membiayai biaya rumah sakit, ingat dia korban kekerasan. Pilihan pertama, lakukan Euthanasia, biarkan ia tidur dengan tenang sekarang juga. Pilihan kedua, kalau kau mau tetap memperjuangkan hidup gadis itu, gajimu akan kupotong, tapi kau boleh merawatnya selama ia masih hidup.’ 

‘Tentu saja kupilih yang kedua, Dokter Austin!! Nyawa gadis ini sangat berharga!! Mana aku tega melakukan prosedur Euthanasia padanya?!’ 

‘Tapi kau siap hidup dalam kemelaratan apabila gajimu dipotong?’ 

‘Lebih dari siap, Dokter…’ 

‘Begitu? Kupercayakan gadis ini padamu kalau begitu… Christine akan kuminta untuk melakukan penelitian terhadap obat pemusnah Nocturne secepatnya…’ 

‘…’

Dokter Ray melangkah masuk ke dalam ruangan Yvonne. Tampak perawat yang tadi masih ada di dalam sambil mencatat kondisi Yvonne yang masih tertidur lelap. 

‘Bagaimana?’ 

‘Suhu tubuhnya naik dan tidak mau turun… Beberapa organ dalam fungsinya menurun secara bertahap dan jaringan tubuhnya menipis akibat perbuatan virus itu…’ 

‘Berbahaya?’ 

‘Tenang saja Dokter, laporan tadi berdasarkan pada penelitian dalam tingkat sel. Jadi perkembangannya sangat lambat dan masih memungkinkan pihak kimia membuat obat penawarnya…’

Perawat itu tersenyum menatap Dokter Ray yang tampak khawatir dengan gadis muda itu. ‘Kalau begitu saya permisi dulu, Dokter…’ 

‘Ah, ya… terima kasih, Amanda!’

Suster Amanda meninggalkan ruangan dan meninggalkan Doker Ray hanya berdua bersama Yvonne di ruangan itu. Dokter Ray memperhatikan bekas rotan di tangan Yvonne, mengingatkannya pada masa kecilnya yang mengenaskan. 

‘Kasihan sekali… Bahkan keluarga gadis ini tidak peduli dengan kedaannya…’

Tiba-tiba Yvonne tampak menggeliat di bawah sadarnya dan air mata mengalir di wajahnya. 

‘Sa..sakit…! Jangan.. pukul… Tyler… jangan.. pergi…’ 

 

 

‘Tyler..?’ 

Yvonne terisak dengan nada penuh kesedihan, sementara Dokter Ray mencoba menebak apa yang ada di dalam mipi gadis muda itu. Perlahan Dokter Ray mengelus kepala Yvonne dan Yvonne akhirnya dapat kembali tidur dengan tenang. Dokter Ray menempelkan tangannya di dahi Yvonne, memang benar, suhu tubuhnya panas dan tidak turun juga sejak semalam.

Dokter Ray menungu sampai Yvonne terbangun beberapa jam berikutnya. Ketika Yvonne membuka matanya, Dokter Ray segera menyapanya dengan lembut. 

‘Ah, selamat siang, Yvonne. Bagaimana persaanmu?’ 

Yvonne tidak menjawab, namun Dokter Ray mengulurkan tangannya dengan lembut. 

‘Senang berkenalan denganmu… Namamu indah sekali…’ 

Wajah Yvonne memerah karena malu. 

‘A…aku…’ 

‘Ya?’ 

‘…Senang.. berkenalan denganmu juga, Dokter Ray…’ 

Dokter Ray memandang gadis itu yang menunduk malu sekaligus senang dipuji olehnya. 

‘Kudengar umurmu masih 17 tahun? Kau masih muda rupanya, pantas saja.. cantik…’ 

‘!!!’ 

Yvonne cepat-cepat menarik bantal dan bersembunyi di belakangnya. 

‘Aku tidak mau dibilang begitu lagi…’ 

‘Ada apa…?’ 

Tampak setitik air mata di sudut mata Yvonne. 

‘Dokter… kau tak perlu kasihan padaku… hanya karena luka dan penyakit mematikan di tubuhku…’ 

Dokter Ray tersentak, 

‘Jadi kau sudah tahu perihal Nocturne di tubuhmu?!’ 

Gadis itu mengangguk dengan wajah yang sedih. 

‘Tak perlu mengasihaniku… Aku toh akan mati sebentar lagi. Kau seharusnya membiarkan aku di jalanan saja…’ 

‘Yvonne…’ 

‘Bisa tingalkan aku sendiri dulu?’ 

Dokter Ray menghela napasnya dan akhirnya meningalkan Yvonne sendirian di kamarnya.

‘Dokter Ray?’ 

‘Ah, Dokter Christine! Bagaimana hasil penelitiannya?’ 

‘Aku menemukan gadis ini tanpa sengaja tertular melalui virus Nocturne beberapa tahun yang lalu di udara bebas. Tapi… ini mengejutkan. Bagaimana bisa sebuah virus bertahan di udara bertahun-tahun?! Ini jelas suatu…’ 

‘Dokter, Yvonne bagaimana?’ 

‘Ah, ya, Yvonne… Perlahan tapi pasti virus itu memakan jaringan tubuhnya. Aku sudah mencoba SEMUA cara dan nampaknya virus ini luar biasa bandel.. Aku tak jamin gadis ini tak akan bertahan lama, Ray…’ 

‘…’ 

Dokter Christine menepuk bahu Dokter Ray, 

‘Sudah kau lupakan saja gadis itu! Kan di dunia ini masih banyak gadis lain yang lebih cantik darinya?’ 

‘Dokter Christine, aku menyembuhkan pasien, bukan mencari kekasih…’ 

Dokter Christine tertawa dan air mukanya kembali serius. 

‘Kau benar, lakukanlah yang terbaik, Ray… Sampai jumpa dalam rapat nanti malam…’

 

Malam tiba, Dokter Ray kembali memeriksa kondisi Yvonne sebelum jam malam dimulai. 

‘Yvonne, kau akan kuberikan obat penenang agar malam ini kau dapat tidur dengan nyenyak, bagaimana?’ 

Yvonne menatap Dokter Ray dengan tatapan yang sedih.

‘Apa tak ada obat yang dapat membuatku tidur selamanya, Dokter?’ 

‘Yvonne!!’ 

‘Aku mengerti… lakukanlah…’ 

Dokter Ray menyuntikkan obat penenang tersebut ke dalam tubuh Yvonne dan membiarkannya berbaring di tempat tidurnya. 

‘Reaksinya mungkin akan terlihat sebentar lagi. Tidurlah yang nyenyak, Yvonne…’ kata Dokter Ray lembut dan meninggalkan Yvonne sendirian di kamarnya dan menuju ruang rapat.

Ruang rapat telah ramai dengan seluruh staff Rosemary di dalamnya. Dokter Ray mengamati satu persatu wajah para dokter dan perawat senior maupun junior di sana yang semuanya tampak serius membicarakan perihal yang cukup penting. Dokter Ray mencari tempat duduk bertandakan namanya di meja, namun suasana rupanya terlalu ramai dan menyulitkannya untuk mencari tempat duduknya. 

‘Psst!! Di sini, Dokter Ray!’ 

Rupanya tempat duduk Dokter Ray adalah di sebelah Dokter Christine. Tanpa pikir panjang, Dokter Ray segera mengatur posisi duduknya dan menunggu acara rapat yang akan dimulai sebentar lagi. Tampak Dokter Austin memasuki ruangan dan ruangan menjadi sunyi senyap setelah beberapa saat. Dokter Austin berdeham, siap memulai rapat. 

‘Staff Rumah Sakit Rosemary sekalian, saya memohon maaf atas ketidaknyamanan untuk mengadakan rapat mendadak seperti ini. Tapi, mohon dimaklumi… Kita sedang menjalani krisis dan kondisi berbahaya tingkat tinggi yang gawat apabila terjadi kesalahan teknis.’

Lampu ruangan rapat dimatikan, slide presentasi mulai diputar dan Dokter Austin tampak berdiri sambil menjalankan pointernya di atas slide presentasi. 

‘Saudara-saudara dokter dan perawat senior tentunya pernah mendengar tentang virus ilusi Nocturne yang menyebabkan puluhan staff peneliti negara meninggal dunia dalam waktu hitungan menit. Dan entah keberuntungan apa yang membuat kita… berhasil membekukan virus itu untuk sementara. Hanya DIBEKUKAN. Saudara, informasi terbaru menyatakan bahwa Rumah Sakit Rosemary hari ini menerima pasien baru dengan gejala Nocturne di tubuhnya…’

Para dokter langsung berbisik-bisik satu sama lain seakan tidak percaya akan hal itu. Suasana ruang rapat mulai panas dan ramai setelah pernyataan Dokter Austin tersebut.

 

‘Harap tenang, saudara-saudara! Dokter Christine telah melakukan penelitian terhadap virus tersebut dan bersedia mempresentasikan laporannya di hadapan kita semua pada malam hari ini. Kita dengarkan saja, bagaimana tanggapannya…’ 

‘Terima kasih, Austin, akan kulanjutkan…’

Dokter Christine menyelipkan flash disk miliknya di laptop yang dipakai untuk presentasi tersebut dan membuka file miliknya. 

‘Jadi saudara-saudara… Menurut penelitian saya, ada 3 objektif yang dilaksanakan oleh virus tersebut untuk menghentikan kehidupan. Pertama adalah menngekskresikan racun yang membuat penderita mengalami panas tinggi di mana racun tersebut merupakan zat yang tidak dibutuhkan olehnya pada saat pembelahan. Kedua adalah membentuk jaringan yang menyambungkan jaringan antara jaringan bentukan virus dan jaringan organ tubuh yang sehat. Ketiga, mereka akan memakan jaringan organ tubuh hingga menipis dan akhirnya hilang…’

Ruangan menjadi sunyi ketika pernyataan tersebut dibacakan oleh Dokter Christine, tampak ada seberkas ketakutan pada wajah para dokter. 

 

‘Pasien dinyatakan meninggal saat seluruh jaringan tubuhnya tidak dapat lagi menopang fungsi mereka masing-masing. Kematian dipastikan ketika organ tubuh mereka tidak berfungsi… atau rusak total… Akan tetapi hasil penelitian yang kami lakukan pada pasien tersebut menunjukkan adanya kerusakan pada membran penghasil kode genetik pada virus. Sehingga memperlambat daya kerjanya hingga 90 persen lebih dan memberikan pada kami waktu untuk menemukan obat pencegahnya.’

Para dokter mulai ribut lagi dengan obrolan mereka masing-masing. Dokter Austin mengambil mic dari tangan Dokter Christine dan kembali melanjutkan. 

‘Untuk mengatasi segala kemungkinan terjadi, kami membuat unit yang untuk selanjutnya disebut sebagai NAT-Nocturne Anticipation Team- yang anggotanya saya pilih sendiri. Tim ini akan menjadi penggerak utama sekaligus barisan paling depan dalam antisipasi terhadap Nocturne di Rosemary maupun biohazard-nya.’

Dokter Ray mendengarkan dengan seksama sambil memain-mainkan pena bersenter miliknya yang tergantung di saku kemeja dokternya. 

‘Yang pertama, Dokter Christine sebagai ahli kimia dan biotek. Yang kedua, Dokter Kohler, untuk anesthesiolog dan antisipasi terhadap tindakan ekstrem pasien. Yang ketiga, Dokter Raveev, sebagai psikolog. Keempat, Dokter Ray sebagai penanggung jawab pasien…’

Dokter Ray tersentak mendengarnya. Jantungnya berdebar, sungguh di luar dugaan ia termasuk dalam tim inti dalam kejadian penting di rumah sakit itu. 

‘Dan yang kelima adalah saya sendiri, Dokter Austin sebagai penanggung jawab dan ketua utama dari NAT. Saya harap dokter yang terpilih dapat bekerja dengan keras, dan untuk semua staff yang hadir di sini, saya sangat memohon kerja sama anda semua dalam antisipasi terhadap Nocturne. Sekian saja untuk rapat mala mini. Anda semua boleh bubar…’ 

 

Dokter Ray meninggalkan ruangan dengan gundah bersama Dokter Christine. 

‘Dokter Christine, aku…’ 

‘Percaya dirilah, Ray kalau kau serius ingin menyelamatkan gadis itu. Nocturne di tubuhnya terkena dampak antivirus pemerintah beberapa tahun lalu dan membeku akibat membran seperti lapisan sabun. Ini rupanya yang membuat ia awet selama bertahun-tahun…’ 

‘Cepat sekali penelitianmu!’ 

‘Tentu saja… aku selalu cepat, Ray…’ 

Dokter Austin menepuk pundak Ray. 

‘Ray, apa kau tidak keberatan untuk tinggal di rumah sakit selama perawatan Yvonne Zen?’ 

‘A..apa?!’ 

‘Yah, ini hanya tawaranku saja… Jadi kau tetap bisa mengawasinya 24 jam dalam sehari…’ 

‘Boleh saja…’ jawab Dokter Ray mantap. 

‘Aku terpesona dengan sifat kedokteranmu, Ray. Padahal kau masih muda… Jagalah sikapmu itu dan jadilah dokter yang hebat…’ 

Dokter Austin tersenyum dan meninggalkan ruangan. Dokter Ray terdiam dan menyusulnya.

Suasana malam itu sunyi senyap, lampu rumah sakit telah dimatikan, Dokter Ray berjalan sendirian menuju kamar Yvonne ketika ia bertemu dengan Dokter Kohler, sang jenius yang haanya lebih tua beberapa bulan darinya. 

‘Kohler?’ 

‘Ah, kau rupanya, Ray… Ingin melihat ‘Sang Inkubator’ itu, ya?’ 

‘Kohler! Apa hakmu bicara begitu tentang Yvonne?!’ 

‘Hadapilah kenyataan, Ray… Hidupnya tidak lama lagi, kurasa ia di sini hanya dianggap sebagai inkubator dalam penelitian Nocturne. Sebab virus di dalam tubuhnya adalah jenis yang lama bereaksi untuk penelitian. Daripada ia menderita terus… mau kulakukan Euthanasia?’ 

‘Tidak akan Kohler! Ia pasien di bawah pengawasanku!! Awas kalau kau melakukan apa-apa terhadapnya tanpa seijinku!!’ 

‘Oh, ya sudah… kau memang susah diperingatkan…’ Dokter Kohler tersenyum sinis dan berlalu begitu saja. 

Dokter Ray menarik kepalan tangannya dan dengan kesal kembali ke kamar Yvonne.

 

Yvonne tengah tidur dengan nyenyaknya. Mungkin suntikan obat penenang membuatnya dapat melupakan masalahnya selama ini. Dokter Ray memperhatikan wajah pasien pertama di bawah pengawasannya itu dengan seksama. Ia ingin pasiennya tersebut memiliki harapan hidup lagi, ia harus membangkitkan semangat hidupnya.

Dokter Ray tertidur di samping tempat tidur Yvonne karena lelah yang menggeragotinya. Perlahan satu-persatu luka di tubuh Yvonne membawanya pada pengalaman masa kecilnya.

‘Ibu!! Sakit!! Hentikan!!!’ 

‘Aku tidak butuh anak sepertimu… Kau mati saja…’ 

‘Ayah, ayah di mana? Kenapa tidak membantuku?’ 

‘Kau tahu? Adikmu berhasil meraih beasiswa pergi ke luar negeri.. kau tidak berguna…’

‘Ingin membunuh Ray? Kurasa ide yang bagus asal tidak ketahuan…’

’Selamanya kau hanya sampah masyarakat…’

 …

Tidak terasa hampir setahun Ray menjadi penanggung jawab Yvonne. Yvonne telah membuat cukup banyak kemajuan, ia sekarang cukup banyak berbicara dan melaporkan keluhannya kepada para dokter meskipun virus itu rupanya telah menggeragoti tubuhnya lebih cepat dari perkiraan. Yvonne jadi lebih sering mimisan dan daya tahan tubuhnya menjadi begitu lemah. 

‘Yvonne? Kau mau jalan-jalan?’ 

‘Boleh saja…’

Dokter Ray membantu Yvonne menaikkan tubuhnya ke atas kursi roda dan mendorongnya. 

‘Yuk, kita mau jalan-jalan ke mana? Ke depan barangkali?’ 

‘Terserah Dokter saja…’ 

Yvonne menjawab dengan wajah yang merah. Selama setahun Yvonne berada di Rosemary, tidak seorangpun kecuali Dokter Ray yang berani mendekatinya layaknya saudara. Semua takut tertular penyakit dalam tubuhnya yang tidak dapat disembuhkan itu. Setahun sudah Dokter Christine mencoba mencari penawar untuk virus berbahaya tersebut, tapi hasilnya nihil. Setahun… tidak ada kabar sama sekali dari keluarga Yvonne. Yvonne memandangi wajah Dokter Ray yang mendorong kursi rodanya tersebut. 

‘Ya? Kenapa?’ tanya Dokter Ray dengan lembut. 

Yvonne tidak dapat menyembunyikan rasa malunya karena dipergoki seperti itu. 

‘Tidak, kok… tidak ada apa-apa…’ 

Tiba-tiba saja Suster Amanda berlari tergopoh- gopoh ke arahnya. 

‘Dokter Ray!! Kita ada pasien darurat!!’ 

‘Ah, tapi.. aku sedang menangani…’ 

‘Kita kekurangan tenaga medis!! Semuanya sedang dalam istirahat atau menangani kasus kritis yang lainnya!!’ 

‘Apa?!’ 

Pasien yang hendak ditangani tersebut didorong menuju ruang operasi melalui mereka bersama pendampingnya. Yvonne terkejut setengah mati. Ia mengenali sosok sang pasien darurat itu dan juga sosok sang pendampingnya. 

Yvonne memandang sosok yang ia kenali itu dengan pandangan tidak percaya. Sepupunya sendiri, yang merampas kekasihnya dan teman-temannya dari dia karena pesonanya dan kekayaannya, muncul di hadapannya sebagai sosok yang berhasil. Ia kini sudah menikah dengan mantan kekasihnya dan hendak melahirkan anaknya. Sejalar rasa sakit yang samar bangkit di hatinya, makin lama rasa sakit dan tekanan itu bertambah. Yvonne mencengkeram gaunnya perlahan, berusaha menahan rasa sakit dan air matanya. Ray menoleh pada Yvonne. 

‘Yvonne, kau… tidak apa? Aku dipanggil untuk melakukan operasi pada wanita itu. Kelihatannya kondisinya juga kritis, ia beresiko kehilangan anaknya. Aku diperintahkan untuk terjun ke dalam operasi karena aku dilatih untuk menghadapi operasi.’

Ray berbicara sambil melayangkan pandangannya pada sepupu Yvonne. 

‘Kau… tidak keberatan jika kau mengayuh sendiri kursi rodamu dan kembali ke kamarmu? Waktuku tidak cukup untuk mengantarmu kembali…’ 

Tiba-tiba Yvonne mencengkeram ujung jubah dokter Ray. 

‘Ray… Jangan pergi…’ katanya dengan suara tercekat. 

Kebenciannya memuncak pada sepupunya itu. Sekarang kesempatan itu sudah tiba, nyawa sepupunya tak jauh berbeda dengan miliknya sekarang, di ujung tanduk. 

‘Yvone… Aku harus…’ dalam  hati, Ray hanyalah seorang dokter. 

Yvonne tidak bisa menjelaskan kenapa ia tidak ingin Ray pergi dari sisinya sekarang. Ray harus menolong nyawa siapapun dan mengesampingkan perasaan pribadi mereka.

Dokter Ray segera pergi dengan tergopoh ke ruang operasi, meninggalkan Yvonne sendirian. Dalam hatinya berkecamuk juga perasaan bersalah pada gadis muda itu, terlebih itu pertama kalinya Yvonne memanggilnya ‘Ray’, bukan ‘Dokter’ seperti biasanya. Dokter Ray berusaha mengesampingkan semua hal itu dan mencoba berkonsentrasi pada operasi.

 …

‘Yvonne? Kenapa kau menangis?’ 

‘Tidak.. aku tidak menangis….’ 

‘Kalau tidak kenapa ada air mata mengalir di wajahmu?’ 

Tyler mengambil saputangannya dan mengusap air mata Yvonne di wajahnya. 

‘Nah, kau gadis yang jauh lebih cantik kalau tersenyum seperti ini… Jangan menyerah, Yvonne… Luka di tubuhmu pasti tidak akan terasa sakit sebentar lagi. Kau harus tabah mengalami semuanya, ya…’

Tyler mengelus kepala Yvonne perlahan dan merangkulnya. 

‘Kau mau jadi kekasihku, Yvonne? Kujamin hidupmu akan berbahagia dan luka-lukamu tidak akan terasa sakit lagi denganku…’ 

Yvonne menangis sejadinya dan mengangguk tanda setuju. 

‘Tyler!! Lihat!! Bonekanya lucu sekali!!’ 

‘Hahaha!! Ia mirip denganmu, Yvonne!!’ 

‘Aaah, Kau jahat sekali!!’ 

‘Eh? Tidak suka?’ 

Yvonne menggandeng tangan Tyler dengan erat, wajahnya merah dan panas. 

‘Aku suka, kok… Aku senang bisa menghabiskan hari ini bersama Tyler…’ 

Tyler entah kenapa memandang gadis itu dengan perasaan yang bersalah. Sementara nada suara Yvonne yang menggandeng tangannya saat itu penuh dengan cinta…

‘Ah, itu Tyler, kan? Ty…’ 

Yvonne terkejut setengah mati. Tyler, kekasihnya, tengah berciuman dengan sepupunya sendiri yang selalu dibanding-bandingkan dengannya di dalam keluarganya. ‘

Tyler!!! Apa yang kau lakukan!!’ 

Tyler tersentak kaget dan seakan menjauhkan dirinya dari sepupu Yvonne tersebut mendengar teriakan dari Yvonne. 

‘Ah, kau Yvonne… Kau sudah bertemu dengan tunanganku ini? Padahal malam ini aku baru mau mengenalkannya pada keluargamu!’ 

Yvonne tak dapat bicara apa-apa, tubuhnya gemetar dan air matanya hampir mengalir. Dengan nada suara yang serak, ia melanjutkan, 

‘Tyler, apa semua ini… benar? Apa kau dan Nicole…’ 

‘Maafkan aku,Yvonne… Sejak awal, aku memang sudah jatuh cinta pada Nicole. Tidak ada urusan denganmu kecuali karena rasa kasihanku padamu, Yvonne…’ 

Yvonne menunduk dengan sedih, Tyler telah mempermainkan perasaannya. Dengan cepat ia berlari meninggalkan Tyler dan Nicole dan duduk di taman yang sepi untuk sekedar meratap. Ia terbatuk karena kelelahan akibat berlari dan dilihatnya bahwa tangan yang memegang mulutnya telah berlumur darah. 

Sebenarnya, Yvonne sudah lama mengalami gejala itu, namun ia terpaksa tidak menceritakannya kepada siapapun demi kebaikannya juga. Hujan kemudian turun dengan derasnya, Yvonne kembali berjalan tanpa arah dan tujuan. Ia sudah tidak mungkin pulang, orangtuanya pasti akan menyiksanya lagi. Apalagi setelah tahu ia putus dengan kekasihnya, mereka pasti akan semakin menganggap Yvonne sebagai pengganggu dalam rumah mereka. Yvonne berjalan terhuyung-huyung dan akhirnya jatuh terjerembab di tengah hujan. 

Sesaat sebelum kesarannya hilang, Yvonne mendengar sebuah suara halus memintanya untuk bertahan… Hanya suara itu saja harapannya untuk bertahan hidup saat itu…

 

Dokter Ray berhasil melaksanakan operasi dengan gemilang, bayi yang dilahirkan oleh Nicole selamat, dan seluruh keluarganya bersukacita karena hal itu. Sementara Yvonne yang mengayuh sendiri kursi rodanya ke dalam kamar tengah menangis sendirian, tanpa ada yang peduli padanya. Napasnya sesak, dan sesekali ia terbatuk mengeluarkan darah. Setelah mengucapkan selamat kepada keluarga yang baru saja mendapatkan anak pertamanya, Dokter Ray kembali ke ruang perawatan Yvonne untuk melaksanakan kewajibannya sebagai penanggung jawab Yvonne.

Selama perjalanan, Dokter Ray mendengar banyak suara di sekelilingnya. Dokter-dokter lain sibuk membicarakan mengenai Nocturne dalam tubuh Yvonne, sementara lainnya membahas mengenai kasus Nocturne yang tersebar di dunia. WHO akhir-akhir ini menyatakan bahwa Rumah sakit di seluruh dunia harus segera siap sedia untuk berperang melawan Nocturne. Virus itu kini rupanya telah menjadi isu terhangat di dunia saat ini dan merupakan senjata mematikan bagi umat manusia. Penelitian terbaru menyatakan bahwa virus itu menular kontak darah, yang berarti virus itu hampir sama tipenya dengan penyakit AIDS, barangkali saja modifikasinya…

‘Y..Yvonne!!!’

Dokter Ray terkejut setengah mati melihat Yvonne telah tergeletak lemah di tempat tidurnya dengan berlumuran darah.

‘Bodoh!! Kenapa kau tidak memanggil perawat?!’ 

Yvonne memandang Dokter Ray dengan matanya yang masih basah karena air mata.

‘Aku.. tidak mau…’ 

‘Yvonne!?’ 

‘Kau lebih memilih…nya… daripada.. aku…’

 

Susah payah Yvonne mencoba untuk berdiri dan cepat-cepat berlari keluar dari kamarnya, Dokter Ray berusaha mengejar Yvonne, namun Yvonne rupanya sangat ahli bersembunyi dari kejaran Dokter Ray, membuat Dokter Ray kebingungan juga untuk mengejarnya.

Hari menjelang tengah malam. Dokter lainnya telah bersiap pulang sementara Dokter Christine, sang ahli kimia masih meluruskan badannya sembari memperhatikan catatannya tentang reaksi-reaksi virus di tubuh Yvonne terhadap zat kimiawi. Ia menguap dan berjalan meninggalkan ruangan untuk pergi ke kamar kecil, rupanya ia sudah menahannya dari tadi namun sungkan di hadapan dokter lainnya.

Yvonne yang bersembunyi di balik tembok cepat-cepat menyelinap masuk begitu tahu Dokter Christine telah meninggalkan ruang penyimpanan obat kimia. Ia mengambil beberapa botol obat dan bersembunyi di tepian tembok agar tidak terlihat dari luar, memecahkan botolnya, membuka tutupnya, dan menenggak isinya sekaligus. Segera setelah ia menenggak semuanya, ia terjatuh lemas di lantai dengan pandangan mata yang kabur, ia terisak pelan di lantai sambil membayangkan Nicole danTyler. Hatinya sakit, pertama Tyler, sekarang Dokter Ray juga telah meninggalkannya. Ia memejamkan matanya dan berharap segera pergi dari dunia ini dengan tenang.

Dokter Ray tengah berlari mencari-cari Yvonne dan hampir putus asa menemukannya di sana, mungkin Yvonne sudah pergi meninggalkannya. Tapi kenapa? Mendadak Yvonne bertingkah drastis seperti itu yang belum pernah ia lakukan sebelumnya? Tiba-tiba suatu perasaan aneh merasuk di hati Dokter Ray, jantungnya berdegup kencang dan firasatnya mengatakan ada sesuatu di ruang penyimpanan obat.

‘Dokter Ray?’ 

‘Ah, Dokter Christine? Aku… Yvonne melarikan diri…’ 

‘Apa?! Ini gawat! Kita harus mencarinya sekarang juga!!’

‘Itu dia, aku tak dapat menemukannya di manapun…’

Dokter Christine berlari tergopoh-gopoh ke dalam ruang penyimpanan obat untuk mengenakan kemeja dokternya diikuti Dokter Ray di belakangnya. 

‘Pokoknya kita harus menemukannya cepat-cepat atau…’ 

‘Dokter Christine!!’ 

Dokter Ray segera berlari menghampiri sesosok manusia yang tergeletak tak sadarkan diri di sudut ruangan, Yvonne yang ia cari-cari dari tadi. 

‘Yvonne!! Sadarlah Yvonne!!’ 

‘Anak bodoh!! Ia menenggak begitu banyak obat dalam jumlah yang tidak main-main!! Ray, bawa dia ke ruang gawat darurat dan segera kumpulkan anggota NAT ke sana!!’ 

‘Siap!!’

Operasi untuk mengeluarkan obat-obatan dalam jumlah besar pada tubuh Yvonne segera dimulai. Sementara para dokter lainnya menangani Yvonne, Dokter Ray dimarahi habis-habisan oleh Dokter Austin dan Kohler, terutama.

‘Ray!! Dasar bodoh!!! Kau tidak bertanggung jawab!!! Kau mempertaruhkan nyawa seorang pasien tahu!!! Apa kau sadar Yvonne bisa saja meninggal lebih cepat karena perbuatanmu!?’

‘Kau sungguh ceroboh… Apa sikapmu yang seperti ini bisa dikatakan sebagai sikap seorang dokter…’ 

Dokter Ray menunduk dengan rasa bersalah yang amat dalam, jika terjadi sesuatu pada Yvonne, ia pasti dipecat, tidak bisa menjadi seorang dokter lagi selamanya. 

‘Aku tahu aku salah, maafkan aku… Aku tak akan mengulanginya lagi…’ 

Dokter Ray membungkuk di hadapan Dokter Austin dan Dokter Kohler, ia tahu bagaimanapun ia meminta maaf, kesalahannya begitu fatal, tidak akan bisa dimaafkan. 

‘Sudahlah, lagipula Dokter Ray hanya mencoba melakukan hal yang benar. Kita sedang kekurangan tenaga medis saat Dokter Ray meninggalkan Yvonne saat itu… ia yang menangani operasi darurat.’ 

‘…’ 

Dokter Christine mencoba menenangkan keadaan dan ia nampaknya berhasil melakukannya. 

‘Baiklah, Ray… Kali ini saja kau kumaafkan. Tapi kalau sampai hal seperti ini terjadi lagi, aku tidak akan memaafkanmu…’ 

‘…Ya, Dokter Austin…’

 

Dokter Ray mendesah, kembali ke ruangan kerjanya dengan hati gundah. Dokter Christine juga sedang sibuk dan kesal gara-gara semua obat di ruang penyimpanan harus cepat diganti karena dianggap sudah tidak steril lagi. Satu hal yang membuatnya penasaran, Yvonne mengamuk tanpa disertai alasan yang jelas setelah ia tinggal untuk operasi darurat seorang ibu yang akan melahirkan. Selain itu Yvonne juga berteriak bahwa Ray lebih memilih ‘dia’ dibandingkan dirinya. Perasaan yang aneh merasuk dalam diri Dokter Ray, ada yang tidak beres. Mungkin saja pasien darurat yang ditangani olehnya memegang kunci bagaimana Yvonne bisa mengamuk mendadak seperti itu.

‘Pasien bernama Nicole Muller, seorang ibu muda yang baru menikah setahun yang lalu. Dikenal sebagai seorang jenius yang menyelesaikan pendidikannya lebih cepat dari biasanya…’ 

‘Itu saja? Apa ada catatan lain mengenai latar belakangnya?’ 

‘Hmm, barangkali nama suaminya? Apa itu bisa membantu?’ 

‘Siapa? Sebutkan saja…’ 

‘Tyler Locheart…’ 

‘Tyler?!’ 

‘Ya, benar… apa ada masalah?’

Dokter Ray berusaha mengingat, yang jelas nama Tyler tidaklah asing di pikirannya. Tyler…Tyler…

‘Sa..sakit…! Jangan.. pukul… Tyler… jangan.. pergi…’ 

‘Tyler! Ada sesuatu antara Tyler Locheart dan Yvonne!!’ 

‘Benarkah?!’ 

Suster Amanda tampak antusias mendengar dugaan dari Dokter Ray tersebut. Dengan teliti, ia mulai membaca lagi catatan medis Nicole Muller satu-persatu. 

‘Dokter Ray… Kurasa jika Tyler Locheart memiliki hubungan dengan nona Yvonne, Nicole Muller pastinya juga memiliki hubungan dengannya. Aku akan mengurus masalah ini.’ 

‘Terima kasih, Amanda… Serahkan Yvonne padaku…’ 

‘Baik, Dokter. Tapi jangan terlalu memaksa nona Yvonne, aku khawatir penyakitnya akan semakin parah…’

Yvonne tergeletak lemas di ranjangnya, infus obat bergelantungan dan menyambung ke aliran darahnya, kepalanya pening dan hatinya masih sakit memikirkan Nicole. Yvonne mendengar suara pintu kamarnya dibuka dan seseorang masuk ke dalam. 

‘Ah, Yvonne, bagaimana kabarmu?’ 

Itu Dokter Ray, dan Yvonne entah kenapa tidak ingin menemuinya saat ini, ia mengalihkan pandangannya dari Dokter Ray. 

‘Yvonne, aku boleh tanya sesuatu?’ 

Yvonne terdiam sejenak dan menjawab dengan suara yang benar-benar pelan, 

‘…apa?’ 

‘Kau kenal dengan Tyler Locheart dan Nicole Muller?’ 

Yvonne terkejut dan dengan cepat membalikkan badannya. 

‘Ke..kenapa…?’ 

‘Aku pernah mendengar kau mengigau memanggil nama Tyler. Lagipula nama suami pasien darurat yang kutangani juga bernama Tyler. Kau mengamuk setelah aku menangani pasien darurat tersebut. Ini pasti bukan hanya suatu kebetulan…’ 

Jantung Yvonne berderap kencang, dengan cepat ia mengambil bantal di sampingnya dan melemparkannya kea rah Dokter Ray. 

‘Keluar!!!’ 

‘Y..Yvonne…’ 

‘Keluar kataku!!! Aku tak ingin mendengar nama itu sekali lagi!!!’ 

Yvonne mengamuk dan melemparkan barang-barang di sampingnya. Dokter Ray dengan sigap menangkap tangan Yvonne dan berusaha menenangkannya. 

‘Yvonne, sudah!!’ 

‘..ku…mohon…’ 

Dokter Ray terkesima, air mata Yvonne mengalir dengan derasnya. 

‘..Aku… ingin pergi saja… di dunia ini tidak ada tempat bagiku…’ 

Suara Yvonne terdengar bergetar, Dokter Ray jadi merasa kasihan pada Yvonne dan mengendurkan cengkeramannya. Namun segera setelah ia mengendurkan cengkeramannya, Yvonne menampar wajahnya kuat-kuat dan membuatnya mundur ke belakang beberapa langkah. 

‘Kalian semua para dokter sama saja!!! Kalian berkata dapat menyembuhkan penyakit apa saja dan mau menyembuhkannya!!! Tapi kalian tidak tahu sakit apa yang paling parah di dunia ini!! Kukatakan saja, Nocturne dalam tubuhku tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan sakit hatiku–!!’ 

Segera setelah berteriak sekuat tenaganya, Yvonne tercekat dan terbatuk, nafasnya sesak. Dokter Ray mengelus punggung Yvonne dan membiarkannya berbaring di tempat tidur. Yvonne mulai menangis lagi, 

‘…Ray… Nicole… pergi…’ katanya terbata. Dokter Ray hanya mengangguk dan mengelus kepala Yvonne perlahan dan meninggalkannya sendirian di dalam ruangan.

‘Dokter Ray!! Aku menemukan sesuatu yang luar biasa dari penyelidikanku terhadap keluarga Nicole Muller!!’ 

‘Apa?! Benarkah!?’ 

Suster Amanda membuka file laporannya dan menyerahkannya kepada Dokter Ray. 

‘Nicole Muller masih merupakan kerabat dari Yvonne Zen, lebih tepatnya… mereka sepupu. Dikatakan bahwa keluarga Muller adalah keluarga yang cukup berbahagia dan nyonya Nicole adalah kebanggaan yang membuat keluarga itu terpandang di antara kerabat-kerabatnya. Kemudian… saya mencoba mencocokkan tanggal pertunangan dan pernikahan resmi dari nyonya Nicole dan tuan Tyler. Tanggal pertunangan resminya… persis sama dengan hari di mana nona Yvonne masuk ke rumah sakit ini untuk rawat inap…’ 

Dokter Ray agak terkejut mendengar hal itu. Kepingan-kepingan puzzle tentang kehidupan Yvonne di dalam pikirannya semakin lengkap. Tinggal beberapa keping yang belum ia temukan, dan ia membutuhkan Yvonne sendiri untuk menceritakan padanya mengenai itu. 

‘Terima kasih, Amanda. Eerr, bisa tolong panggilkan Raveev? Aku benar-benar membutuhkan bantuannya saat ini.’ 

‘Segera, dokter…’

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

((to be continued..? T_T kalo lagi mood aja…))

-blog ini aslinya ada di vigorosovia.multiply.com-

‘ANGSA’!!!!! >_>

Gila, hari ini sesuatu yang mengerikan terjadi padaku… Guru organku ngasi gw beberapa classical piece aransemen organ buat dimaenin sebagai refreshing, soalny katany ntar gw bisa mati bosen klu maen lagu gereja mulu. Jadi gw perhatiin satu2 lagu yg dikasi guru gw itu… Bach-Air on G String, Chopin-Nocturne op. 9 no. 2, Tchaikovsky-Sleeping Beauty Waltz,…

Gw masi ngliat satu2 partitur itu waktu guru gw bilang, “Kamu coba yg ini deh, kayakny klu kamu pasti bisa maen deh…” Guru gw membolak-balik halaman buku… Camille Saint Saens- The swan. Guru gw cerita katany waktu dia dulu balet pernah pake lagu ini. Hmm, gw rasanya juga pernah denger lagu ini, soalny bokap gw sering crita. Makanya, mari kita sight reading bersama…

Hmm, pedalny dithan.. elodinya masuk… Do si mi… la sol do re… GASP!!! gw langsung berenti bermain n tersadar.. hahahah,  masa sih? Masaa… sih…? MASA SIH?!?!! Di kepala gw  langsung kebayang register atas yg dimaenin dgn suara lembut dr sebuah… flute… O_O 

Hmm, entah kenapa gw langsung bad mood d tempat les gw. Flute.. flute.. flute… Hahaha, kngan buruk jaman gw klas 8 tuh XD. Sekarng sih udh nggak, tapi entah kenapa klu diinget2 lg jd sedih plus sebel banget TT__TT. Waktu itu gw lg kesel banget sama seseorng yg maen di pensi, n gara2 gw g ktrima d ensembel. Gw bilang c wajar, habis gw bego, mo aplg, nyanyi jg g gt bagus! Jadi gw hanya bisa menatap sosok seseorang yg lg gladi resik dgn penuh kbencian dan kekecewaan, berlatih lebi rajin lg supaya bisa menyaingi dia someday… (cieilah… bhsny keren xP)

Sampe sekarang gw berpikiran mungkin gw bisa bertemu sama caippe itu karena gw bertemu sama si *piiiip*. Soalny klu gw g latian mati2an buat ngejer si *piiip*, w nggak bakal main piano waktu gladi resik itu, n g bakal ktemu sama si caippe (yg waktu itu rambutny masi panjang sebahu XD). Jadi, gw bersukur jg si ketemu dia, hehehe…

Taon depan mungkin gw bakal sering ketemu sama si *piip* lg, tp itu klu ktrima d sanur ya!!!! ((jd serem mau k atas O_O)) Sementara itu sepertinya aku harus memoles ‘Angsa’ gw TT__TT Habis interpretasi gw jd ’suara flute’ banget katanya…. sebeeel…. 

Jadi kayak ‘Angsa putih’ vs. ‘Angsa item’ gitu…

Classical music is a broad term that usually refers to mainstream music produced in, or rooted in the traditions of Western liturgical and secular music, encompassing a broad period from roughly the 9th century to present times.The central norms of this tradition became codified between 1550 and 1900, which is known as the common practice period.

European music is largely distinguished from many other non-European and popular musical forms by its system of staff notation, in use since about the 16th century.Western staff notation is used by composers to prescribe to the performer the pitchspeedmeter, individual rhythms and exact execution of a piece of music. This leaves less room for practices, such as improvisation and ad libitumornamentation, that are frequently heard in non-European art music (compare Indian classical music andJapanese traditional music), and popular music.

The public taste for and appreciation of formal music of this type waned in the late 1900s in the United States and United Kingdom in particular.Certainly this period has seen classical music falling well behind the immense commercial success of popular music, in the opinion of some, although the number of CDs sold is not indicative of the popularity of classical music.

The term ‘classical music’ did not appear until the early 19th century, in an attempt to ‘canonize’ the period from Johann Sebastian Bach to Beethoven as a golden age. The earliest reference to “classical music” recorded by the Oxford English Dictionary is from about 1836. Many writers feel that ‘classical’ is an inappropriate term for mainstream and avant-garde music written since the latter part of the 19th century, hence the common usage of apostrophes as a short-hand for ’so-called’.

Characteristics

Given the extremely broad variety of forms, styles, genres, and historical periods generally perceived as being described by the term “classical music,” it is difficult to list characteristics that can be attributed to all works of that type.

Vague descriptions are plentiful, such as describing classical music as anything that “lasts a long time,” a statement made rather moot when one considers contemporary composers who are described as “classical;” or music that has certain instruments like violins, which are also found in bluegrass music,Broadway music, and other genres; or “relaxing” or “background” music for affluent people, descriptions which are probably only accurate when describing court music from the Baroque and Classical periods; indeed, many people do not find modern or avant-garde composers and works such as Threnody to the Victims of Hiroshima by Krzysztof Penderecki or Black Angels by George Crumb to be very relaxing or “snobby.”

However, there are characteristics that classical music contains that generally few or no other genres of music contain.

 Instrumentation

Classical and popular music are often distinguished by their choice of instruments. There are few if any genres in which so many different instruments are used simultaneously by performing groups such assymphony orchestras, which often contain as many as 5 or so different types of string instrumentsincluding violins, violas, cellos, double basses and harp, 7 or more types of woodwind instruments, 4 or so types of brass instrument, and many diverse percussion instruments, sometimes as many as 10 different types. Also prevalent, especially in opera, is the human voice. Comparatively, most popular music genres involve fewer instruments. For instance a typical rock band will consist of a drummer, a guitarist or two, a singer or two, an electric bassist and, less universally, a keyboardist. Of course, crossover influences, such as string sections in pop recordings, are very popular as well, but rarely are backing strings considered to be part of pop or rock bands.

The instruments used in common practice classical music were mostly invented before the mid-19th century (often much earlier), and codified in the 18th and 19th centuries. They consist of the instruments found in an orchestra, together with a few other solo instruments (such as the piano,harpsichord, and organ).

Electric instruments such as the electric guitar appear occasionally in the classical music of the 20th and 21st centuries. Both classical and popular musicians have experimented in recent decades with electronic instruments such as the synthesizer, electric and digital techniques such as the use of sampled or computer-generated sounds, and the sounds of instruments from other cultures such as the gamelan.

None of the bass instruments existed until the Renaissance. In Medieval music, instruments are divided in two categories: loud instruments for use outdoors or in church, and quieter instruments for indoor use. Many instruments which are associated today with popular music used to have important roles in early classical music, such as bagpipesvihuelashurdy-gurdies and some woodwind instruments. On the other hand, the acoustic guitar, for example, which used to be associated mainly with popular music, has gained prominence in classical music through the 19th and 20th centuries.

While equal temperament became gradually accepted as the dominant musical temperament during the 19th century, different historical temperaments are often used for music from earlier periods. For instance, music of the English Renaissance is often performed in mean tone temperament.

Form and technical execution

Whereas the majority of popular styles, such as rock music, lend themselves to the song form, classical music can also take on the form of the concertosymphonyoperadance musicsuiteetude,symphonic poem, and others.

Classical composers often aspire to imbue their music with a very complex relationship between its affective (emotional) content and the intellectual means by which it is achieved. Many of the most esteemed works of classical music make use of musical development, the process by which a musical germ, idea or motif is repeated in different contexts or in altered form. The classical genres of sonata form and fugue employ rigorous forms of musical development.

Along with a certain desire for composers to attain high technical achievement in writing their music, performers of classical music are faced with similar goals of technical mastery, as demonstrated by the proportionately high amount of schooling and private study most successful classical musicians have had when compared to “popular” genre musicians, and the large number of secondary schools, including the conservatories, dedicated to the study of classical music. The only other genre in the Western world with comparable secondary education opportunities is jazz.

 Complexity

Classical music generally requires high musical skills to play such as sight reading, ability to coordinate with other players and experience in playing the composer’s music. Classical works often display musical complexity through the composer’s use of development, modulation (changing of keys), variation rather than exact repetition, musical phrases that are not of even length, counterpoint, polyphony and sophisticated harmony. Larger-scale classical works (such as symphoniesconcertos,operas and oratorios) are built up from a hierarchy of smaller units: namely phrases, periods, sections, and movements. Musical analysis often seeks to distinguish and explain these structural levels.

 Society

Often perceived as opulent or signifying some aspect of upper-level society, classical music has generally never been as popular with working class society. However, the traditional perception that only upper-class society has access to and appreciation for classical music, or even that classical music represents the upper-class society, may not be true, given that many if not most working classical musicians fall somewhere in the middle-class income range in the United States, and that classical concertgoers and CD buyers are not necessarily upper class. Even in the Classical era, Mozart’s opera buffa such as Cosi fan Tutte were popular with many common people.

Classical music regularly features in Pop Culture forming background music for movies, television programs and advertisements. As a result most people in the Western World regularly and often unknowingly listen to classical music, this means that it can be argued that the relatively low levels of recorded music sales may not be a good indicator of its actual popularity. In more recent times the association of certain classical pieces with major events has led to brief upsurges in interest in particular classical genres. A good example of this was the choice of Nessun Dorma from Puccini’s opera Turandotas the theme tune for the 1990 Soccer World Cup which led to a noticeable increase in popular interest in opera and in particular in tenor arias, which led to the huge sellout concerts by The Three Tenors. Such events are often cited as helping to drive increases in the audiences at many classical concerts that have been observed in recent times.

 History

The major time divisions of classical music are the early period (which includes Medieval (476 – 1400) and Renaissance (1400 – 1600)); the Common practice period (which includes Baroque (1600 – 1750); the Classical (1730 – 1820) and Romantic periods (1815 – 1910)) periods; and the modern and contemporary period which includes 20th century classical (1900 – 2000) and contemporary classical(1975 – current).

The dates are generalizations, since the periods overlapped and the categories are somewhat arbitrary. For example, the use of counterpoint and fugue, which is considered characteristic of the Baroque era, was continued by Mozart, who is generally classified as typical of the classical period. Beethoven, who is often described as a founder of the romantic period, and Brahms, who is classified as romantic, also used counterpoint and fugue, but it is other characteristics of their music that define their period.

The prefix neo is used to describe a 20th century or contemporary composition written in the style of an earlier period, such as classical, romantic, or modern. Stravinsky’s Pulcinella, for example, is aneoclassical composition because it is stylistically similar to works of the Classical period.

 Roots

The roots of western classical music lie in early Christian liturgical music, and its influences date even further back to the Ancient Greeks. Development of individual tones and scales was done by ancient Greeks such as Aristoxenus and the mathematician Pythagoras.Pythagoras created a tuning system and helped to codify musical notation. Ancient Greek instruments such as the aulos (a reed instrument) and the lyre (a stringed instrument similar to a small harp) eventually led to the modern day instruments of a classical orchestra. The antecedent to the early period was the era of ancient music from before the fall of the Roman Empire (476 AD). Very little music survives from this time, most of it from ancient Greece.

 The Early Period

The Medieval period includes music from after the fall of Rome to about 1400. Monophonic chant, also called plainsong or Gregorian Chant, was the dominant form until about 1100.[14] Polyphonic (multi-voiced) music developed from monophonic chant throughout the late Middle Ages and into theRenaissance, including the more complex voicings of motets. The Renaissance period was from 1400 – 1600. It was characterized by greater use of instrumentation, multiple interweaving melodic lines and by the use of the first bass instruments. Social dancing became more widespread, so musical forms appropriate to accompanying dance began to standardize.

It is in this time that the notation of music on a staff and other elements of musical notation began to take its current shape. This invention made possible the separation of the composition of a piece of music from its transmission; without written music, transmission was oral, and subject to change every time it was transmitted. With a musical score, a work of music could be performed without requiring the composer’s presence. The invention of the movable-type printing press in the 15th century had predictably far-reaching consequences on the preservation and transmission of music.

Typical stringed instruments of the Early Period include the harp, lutevielle, and psaltery, while wind instruments included the flute family (including recorder), shawm (an early member of the oboe family),trumpet, and the bagpipe. Simple pipe organs existed, but were largely confined to churches, although portable varieties existed. Later in the period, early versions of keyboard instruments like the clavichordand harpsichord began to appear. Stringed instruments such as the viol had emerged by the 16th century, as had a wider variety of brass and reed instruments. Printing enabled the standardization of descriptions and specifications of instruments, as well as instruction in their use.

The Common Practice Period

The Common Practice Period is when many of the notions that make up the idea of western classical music took shape, standardized, or were codified in some way. It began with the Baroque era, running from roughly 1600 to the middle of the 18th century. The Classical era followed, ending roughly around 1820. The Romantic era ran through the 19th century, ending about 1910.

 Baroque music

Baroque music is characterized by the use of complex tonal counterpoint and the use of a basso continuo, a continuous bass line. In this time, the beginnings of the sonata form took shape in thecanzona, as did a more formalized notion of theme and variations. The tonalities of major and minor as means for managing dissonance and chromaticism in music took full shape.

During the Baroque keyboard music played on the harpsichord and pipe organ became increasingly popular, and the violin family of stringed instruments took the form we generally see today. Opera as a staged musical drama began to differentiate itself from earlier musical and dramatic forms, and vocal forms like the cantata and oratorio became more common.[20] Instrumental ensembles began to distinguish and standardize by size, giving rise to the early orchestra for larger ensembles, with chamber music being written for smaller groups of instruments where parts are played by individual (instead of massed) instruments. The concerto as a vehicle for solo performance accompanied by an orchestra became wide-spread, although the relationship between soloist and orchestra was relatively simple. The theories surrounding equal temperament began to be put in wider practice, especially as it enabled a wider range of chromatic possibilities in hard-to-tune keyboard instruments. (For example, equal temperament made possible Bach’s Well-Tempered Clavier.)

 Classical period music

The Classical period, from about 1750 – 1820, established many of the norms of composition, presentation and style, and was when the piano became the predominant keyboard instrument. Thebasic forces required for an orchestra became somewhat standardized (although they would grow as the potential of a wider array of instruments was developed in the following centuries). Chamber music grew to include ensembles with as many as 8-10 performers for serenades. Opera continued to develop, with regional styles in Italy, France, and German-speaking lands predominating. The opera buffa, or comic opera, gained in popularity. The symphony came into its own as a musical form, and the concerto was developed as a vehicle for displays of virtuoso playing skill. Orchestras no longered required a harpsichord (which had been part of the traditional continuo in the Baroque style), and were often led by the lead violinist (who we now call the concertmaster).

Wind instruments became more refined in the Classical period. While double reeded instruments like theoboe and bassoon became somewhat standardized in the Baroque, the clarinet family of single reeds did not receive wide use until Mozart expanded its role in orchestral, chamber and concerto settings.

 Romantic era music

The music of the Romantic era, from 1820 – 1910, was characterized by increased attention to melody and rhythm, as well as expressive and emotional elements, paralleling romanticism in other art forms. Musical forms began to break from the Classical era forms (even as those were being codified), with free-form pieces with titles like nocturnefantasia, and prelude being written, where accepted ideas about the exposition and development of themes were ignored or minimized. The music became more chromatic, dissonant, and tonally colorful, with tensions (with respect to accepted norms of the older forms) about key signatures increasing. The art song (or Lied) came to maturity in this era, as did the epic scales of grand opera, which culminated with Richard Wagner’s Ring cycle.

In the 19th century, musical institutions were able to separate themselves from the control of wealthy patrons, as composers and musicians were able to construct lives independent of the whims of the sometimes fickle nobility. Increasing interest in music by the growing middle classes throughout western Europe spurred the creation of organizations for the teaching, performance, and preservation of music. The piano, which achieved its modern construction in this era, in part due to industrial advances in metallurgy, became widely popular with the middle class, whose demands for the instrument spurred a large number of piano builders. Most symphony orchestras with long histories date their founding to this era.[24] Some musicians and composers were the stars of the day; some, like Franz Liszt andNiccolo Paganini, fulfilled both roles.

The family of instruments used, especially in orchestras, grew. A wider array of percussion instruments began to appear. Brass instruments took on larger roles, as the introduction of rotary valves made it possible for them to play a wider range of notes. The size of the orchestra (typically around 40 in the Classical era) grew to be over 100. (Gustav Mahler’s 1906 Symphony of a Thousand, for example, has been performed with over 150 instrumentalists and choirs over 400 strong.)

The influence of the European musical ideas also began to spread beyond the boundaries of Europe, as European cultural ideas and institutions began to follow colonial expansion into other parts of the world. There was also a rise within Europe, especially toward the end of the era, of nationalism in music (echoing, in some cases, political sentiments of the time), as composers such as Edvard GriegNikolai Rimsky-Korsakov, and Antonín Dvořák echoed traditional music of their homelands in their compositions.

 20th century, modern, and contemporary music

The modern era began with Impressionist music from 1910-1920, which was dominated by French composers who went against the traditional German ways of art and music. Impressionist music byErik SatieClaude Debussy and Maurice Ravel used the pentatonic scale, long, flowing phrases and free rhythms. Modernism, 1905-1985, marked a period when many composers rejected certain values of the “common practice” period, such as traditional tonality, melody, instrumentation, and structure. Composers, academics, and musicians developed extensions of music theory and technique in this time. 20th century classical music, encompassing a wide variety of post-Romantic styles composed through the year 1999, includes late Romantic, Modern and Postmodern styles of composition. The term contemporary music is sometimes used to describe music composed in the late 20th century through present day.

Significance of written notation

Classical music is considered primarily a written musical tradition, preserved in music notation, as opposed to being transmitted orally, by rote, or in recordings of particular performances. While there are differences between particular performances of a classical work, a piece of classical music is generally held to transcend any interpretation of it. The use of musical notation is an effective method for transmitting classical music, since the written music contains the technical instructions for performing the work. The written score, however, does not usually contain explicit instructions as to how to interpret the piece in terms of production or performance, apart from directions for dynamics, tempo and expression (to a certain extent); this is left to the discretion of the performers, who are guided by their personal experience and musical education, their knowledge of the work’s idiom, and the accumulated body of historic performance practices.

However, improvisation once played an important role in classical music. A remnant of this improvisatory tradition in classical music can be heard in the cadenza, a passage found mostly in concertos and solo works, designed to allow skilled performers to exhibit their virtuoso skills on the instrument. Traditionally this was improvised by the performer; however more often than not, it is written for (or occasionally by) the performer beforehand.

Its written transmission, along with the veneration bestowed on certain classical works, has led to the expectation that performers will play a work in a way that realizes in detail the original intentions of the composer. During the 19th century the details that composers put in their scores generally increased. Yet the opposite trend — admiration of performers for new “interpretations” of the composer’s work — can be seen, and it is not unknown for a composer to praise a performer for achieving a better realization of the composer’s original intent than the composer was able to imagine. Thus, classical music performers often achieve very high reputations for their musicianship, even if they do not compose themselves. Generally however, it is the composers who are remembered more than the performers.

Another consequence of the primacy of the composer’s written score is that improvisation plays a relatively minor role in classical music, in sharp contrast to traditions like jazz, where improvisation is central. Improvisation in classical music performance was far more common during the Baroque era than in the nineteenth and twentieth centuries, and recently the performance of such music by modern classical musicians has been enriched by a revival of the old improvisational practices. During the classical period, Mozart and Beethoven sometimes improvised the cadenzas to their piano concertos(and thereby encouraged others to do so), but they also provided written cadenzas for use by other soloists.

Influence

One criterion used to distinguish works of the classical musical canon is that of cultural durability. However, this is not a distinguishing mark of all classical music: while works by J. S. Bach continue to be widely performed and highly regarded, music by many of Bach’s contemporaries is deemed mediocre and is rarely performed, even though it is squarely in the “classical” realm. To some extent, the notion of such durability is a self-fulfilling prophecy (and therefore a fallacy), simply because classical music is studied and preserved at much higher levels than other music.

 Popular music

Classical music has often incorporated elements or even taken material from popular music. Examples include occasional music such as Brahms’ use of student drinking songs in his Academic Festival Overture, genres exemplified by Kurt Weill’s The Threepenny Opera, and the influence of jazz on early- and mid-twentieth century composers including Maurice Ravel, as exemplified by the movement entitled “Blues” in his sonata for violin and piano.[28] Certain postmodernminimalist andpostminimalist classical composers acknowledge a debt to popular music.

There are, likewise, numerous examples of influence flowing in the opposite direction, including popular songs based on classical music, the use to which Pachelbel’s Canon has been put since the 1970s, and the musical crossover phenomenon, where classical musicians have achieved success in the popular music arena (one notable example is the “Hooked on Classics” series of recordings made by the Royal Philharmonic Orchestra in the early 1980s). Some rock bands such as Emerson, Lake & Palmer have recorded classical compositions.

 Folk music

Composers of classical music have often made use of folk music (music created by musicians who are commonly not classically trained, often from a purely oral tradition). Some composers, like Dvořák andSmetana, have used folk themes to impart a nationalist flavor to their work, while others (like Bartók) have used specific themes, lifted whole from their folk-music origins.

Commercialism

Certain staples of classical music are often used commercially (that is, either in advertising or in the soundtracks of movies made for entertainment). In television commercials, several loud, bombastically rhythmic orchestral passages have become clichés, particularly the opening of Richard Strauss‘ Also sprach Zarathustra (made famous in 2001: A Space Odyssey) and the opening section “O Fortuna” ofCarl Orff’s Carmina Burana; other examples in the same vein are the Dies Irae from the Verdi Requiem,Edvard Grieg’s In the Hall of the Mountain King from Peer Gynt, the opening bars of Beethoven’sSymphony No. 5, Wagner’s Ride of the Valkyries from Die Walküre, and excerpts of Aaron Copland’s “Rodeo“.

Similarly, movies and television often revert to standard, clichéd snatches of classical music to convey refinement or opulence: some of the most-often heard pieces in this category include Mozart’s Eine kleine NachtmusikVivaldi’s Four Seasons, and Mussorgsky’s “A Night on Bald Mountain”.

Education

Throughout history, parents have often made sure that their children receive classical music training from a young age. Some parents pursue music lessons for their children for social reasons or in an effort to instill a useful sense of self-discipline. Some consider that a degree of knowledge of important works of classical music is part of a good general education.

During the 1990s, several research papers and popular books emergence touting the so-called Mozart effect: a temporary, small elevation of scores on certain tests as a result of listening to Mozart. The popularized version of the controversial theory was expressed succinctly by a New York Times music columnist: “researchers… have determined that listening to Mozart actually makes you smarter.” Promoters marketed CDs claimed to induce the effect. Florida passed a law requiring toddlers in state-run schools to listen to classical music every day, and in 1998 the governor of Georgia budgeted $105,000 per year to provide every child born in Georgia with a tape or CD of classical music. One of the co-authors of the original studies of the Mozart effect commented “I don’t think it can hurt. I’m all for exposing children to wonderful cultural experiences. But I do think the money could be better spent on music education programs.”

Huahahaha, gw umur 15 hari ini!!! Semuanya, gw mengucapkan banyak trima kasi karena tlah menjd bagian dr 15 taon idup gw… Trutama buat family gw, temen2 gw, n ‘family’ gw , (hehehe)….

Berkaitan dgn hari ultah gw in, bisa dibilng ultah gw taon ini sepi bangt… XD Scara gw juga ga niat ngrayain… tp syukur2 yg lain masi inget, makasi lho semuanya… TT__TT Apalg buat Lala yg udh ngasi gw kado, duh rasanya gw jadi nggak enak, bingung mau ngasi temen2ku ini apa buat tanda trima kasi gw… 

Trus, masalah kedua…

Sebenernya saya di sini bukan mau menjelek-jelekkan guru secara sepihak atau apa, tapi saya hanya berusaha mengemukakan pendapat saya. Akhir2 ini saya merasa guru terkadang melanggar batas-batas ‘privasi’ murid yang seharusnya nggak diumbar keluar dan juga terkadang mengeluarkan spekulasi2 mereka kepada orang tua murid yang sebenarnya ‘belum pasti’ dan tidak semuanya benar.

Beberapa hari yang lalu, saya menerima kabar dari mama saya mengenai masalah saya dengan adik kelas saya dan bagaimana guru mengeluarkan tanggapan terhadap sikap saya tersebut. Mama saya menceramahi saya panjang lebar, dan dari cerita2 yang dikemukakan olehnya, yang saya tangkap adalah para guru tidak melihat 100% apa yang terjadi pada saya baik di dalam maupun di luar kelas dan kasus2 yang diberitakan tidak 100% benar. Tapi mama tetap saja cas cis cus sama saya dan rasanya dia tidak mengerti duduk perkara yang sebenrnya dari masalah itu.

Wali kelas tidak selamanya benar, dia juga tidak selalu melihat murid-muridnya secara ‘utuh’ dan mengetahui bagaimana sebenarnya kondisi murid tersebut di kelas. Tetapi wali kelas juga bila memang belum mengetahui duduk perkara dari seorang murid secara keseluruhan harap jangan berlebihan menceritakannya pada orang tua murid, sebab murid itu sendiri juga terpaksa harus membela dirinya sendiri dengan argumen2 yang menurut orang tua murid ‘tidak logis’ dan pendapat dari wali kelas yang justru dijadikan acuan utama, bukan argumen dari sang murid itu sendiri.

Mengapa saya menulis mengenai hal ini di blog saya? pada saat mama saya menceramahi saya, dia berkata pada saya untuk hati2 menulis blog karena blog saya ini diperhatikan oleh para guru dan tidak jarang diprint karena kekhawatiran mereka terhadap saya. Tapi saya tidak percaya karena mungkin yang dimaksud adalah hasil print dari chat log saya dan adik kelas saya yang sengaja saya print sendiri dan saya serahkan kepada guru BK untuk meminta solusi dalam masalah tertentu beberapa waktu lalu. Jadi blog ini adalah ‘tantangan’ saya untuk menguji, apakah benar para guru melakukan semua itu. 

Saya tegaskan saja, saya TIDAK tergantung pada adik kelas saya dan hubungan kami semata2 teman biasa. Masalah ‘kompelksitas’ dsb. yang saya tulis di blog sebelumnya tidak lain adalah hanya sebuah bercandaan biasa. Jika orang tua saya memarahi saya karena saya tidak bisa putus2 telepon dengan dia seperti orang pacaran, anda tidak akan mengerti masalahnya meskipun saya jelaskan dan anda pasti berpikiran alasan saya tidak logis.

 Saya ingin menegaskan, saya TIDAK berusaha untuk menyendiri dan saya juga tidak berusaha untuk menghindari teman2 saya di kelas. Mungkin mereka memang berpikir saya kalau kerja tidak serius, dsb. tapi sebenarnya saya juga berusaha supaya bisa diterima mereka.  Satu hal yang wali kelas saya tidak tahu, mungkin adalah saya telah mengalami banyak kemajuan dalam pergaulan dengan teman2 sekelas. Saya tidak selamanya fokus pada adik kelas saya kok, sya juga bagian dari kelas saya dan saya sampai hari ini masih berusaha agar teman2 sekelas mau menerima saya meskipun mungkin dari luar (bagi mereka) tidak terlihat seperti itu. Adik kelas saya itu memang teman baik saya, tapi hubungan saya dengan dia normal saja kok. Saya memiliki alasan tersendiri mengapa saya sering berbicara hanya berdua dengan dia dan telpon2an sejam lebih dengannya, tapi saya rasa saya tidak perlu menuliskannya d blog ini.

 

Tolong dong, guru juga maklum sama perasaan murid, jangan kalau ada apa2 dibilang kelainanlah, inilah, itulah, sebenernya kita kan punya alasan tersendiri dan langkah tersendiri juga menghadapi masalah kita, ya nggak sih? Udah gitu penyampainnya ke ortu murid juga diliat dong tipe ortu murid yg kayak apa… kan kasian muridnya klu sampe diceramahin panjang lebar sama ortu ny, padahal murid itu puny alasan kenapa dia mlakukan hal itu yg nggak bisa dcritain ke ortunya?  Jangan ’sok tau’ !!!! Terus kadang guru nggak ngasi muridny kluar dr kelas buat ngomong sama guru BK, materi plajaran juga penting, tapi kadang kan ad juga tipe orang yg klu masalahny blon slese nggak bisa blajar dgn baik. Lah percuma kan? 

 

TT__TT (maaf ya, bu, pak…)

Hari ini gila banget. Gw n ‘adek’ gw td lomba ke Tere, buat lomba solo vokal. Scara gw yg nyanyi, tu anak accompany gw ^^. Ugh, pagi2 aja udh panik. “woy, hari ini kita lomba!! Takuuut!!!” Intinya c gitu pembicaraan yg gw lakuin brng dia td pagi d tempat langganan kita b2, korsi jamur deket te-ka. 

Ugh, istirahat satuuu… duaa…. makin gelisah aja nih!! Nungguin dipanggil buat latian sampe ngamuk2 gara2 “diskriminasi”…  (mahahah!! macam mana pula ni!!) tapi yaa, akhirnya latian juga ci…

Wadoooy, gila kli ya T___T yg namanya masterclass dr RG tu slaluuuu sedeng abis… Tp syukurlaah, di abilang, “Nice Lauren, that’s it!” dan “Yak, gitu Igna…” Jadii, dia telpon ke bawah, “hah?! Udah pada berangkat?!” Mampuuus…. ya udh, ambil tas, ambil hape, beres2, ngliat piano di aula sebentar. Wah, blon dikonci tuh.

“caippee!! mau ritual dulu gaak??” gw treak dr dalem aula. “eh, boleh…” trus caippe maen ‘ritual’nya di piano aula itu. middle c 10 kali, persis sama ritual ‘kokonya’ tercayang itu…  N… waktunya brangkat!!! Gw n caippe bawa2 tas, sama nungguin di lorong depan perpus, n gw ngliat… Tasia? lari bolak-balik kluar masuk? Langsung aja gw treakin, “Cieee, nyariin yaa?? Cieee, cieee!! Doain kita yaa!!!” trus dibales, “Iyaa!!!” y, udaaah…. menuju lapangan parkir depan…

Duh, skarang pembagiaan!! Sapa mau naek mobil RG?? walaaah, akhirnya dia sendiri yg nunjuk!! “Igna, Lauren, sama pak bernard ikut saya…” Tau nggak, mobilnya si RG tuh sempit bangeeet!!!!!! Ditambah barang bawaan anak SMP yg sejibun aja, gw ma si Lauren udh empet2an!! hueeeks, susah bgt masuknya bo!!

Hulaaa, setelah pembicaraan geje di mobil, akhirnya… sampailah kita di Tere! kyuung, kyuuung… tas tinggal di mobil aja, beraaat!!! gw cuma bawa tas partitur gw sama komik nodame yg telah gw persiapkan sebelumnya, muhooo…

Hmm, abis registrasi, ngobrol2 sama guru2 yg jaga stand di bawah kita k atas.. k ruang doa… Si cai nyobakeyboardnya.. trus dia ngeluh ke gw, “iikh, dinamikanya ga bisa nih!!!” tapi si RG maksa, “bisa kok!” Dan ternyta emang bisa, tp susah… Tapi ya, setelah dicoba ternyata bisa juga kok…

Karena ad kesalahan teknis, terpaksa, kita ngulang ambil undian. Dan undian yg gw ambil itu, ternyata.. nomor SATU!??! Untung.. si Ruth mau buru2 ke CC, jadi gw tukeran nomor undian sama Ruth.. akhirnya gw dapet nomor 20 deh. Viona dpt nomor 12, Jessi 14

Ugh, yg lain pada nyanyi baguus bgt.. Gw n cai dapet inspirasi banyaaak banget buat RP brikutnya. Trutama cowok maen gitar dgn napdu bgt itu, hahhah!!! bgs bngt buat RP!!!

uuh, smentara itu kita sibuk baca komik, dikerjain RG, hahah!! Itu, critanya si RG lg nelpon temennya, pas blon nyambung, dia tu bilang, “halo..? hah, sanur kebakaran!?!” Wah, elaah!!! Gila, itu tu shock therapy abis, hahaah!!! Gw juga sempet nanya, “Eh, romo, klu maen organ, kakiku suka kesemutan klu maen pedal, trus kok cepet banget pegelnya? ad cara menyiasati?” Dia senyam senyum ke gw, “ada sih, caranya… tp kamu jgn tersinggung ya..” “Emang apa caranya romo?” Si caippe penasaran.. “Kamu mesti kurusin badan..” gitu katanyaaa!!!

Trus mendadak, cai ngulurin jri kelingkingnya ke gw sambil senyum, “Concour pertama kita…” OMG, itu tuh touching abiiis!!!! T___T ya, spontan gw ikut gaetin jari gw n gw bilang, “Yup, do our best..”…

Eeeek..!!! T_T yg lain mlakukanny dgn sangat bagus, gw yg gagap di atas panggung dgn tidak sengaja mengucapkan hal gawaat (temen2 yg nonton kmaren, maap bgt ya, gw udh blank wkt itu!!).. ugh, lebay bgt c…. dah gitu caippe kena insiden “empat mata” sama RG, dia g bisa konsen gara2 ngeblush, maklum, bgitu giliran kita, para pendukung dr sanur smuanya naik k ruang doa… aaah, knp mesti pas giliran kita c…

oke, deeh… abis itu, gw n ‘adek’ gw memutuskan but balik ke sanur sama RG, kita bakal pulang dari sana. Trnyta bgt sampe d luar, mendadak, “Oy, buku pinknya tadi ke mana..?” uwaah, paniklah kita brdua! Akhirnya, caippe nyariin RG k bawah sedangkan gw nanya k panitia, ad g buku pink ktinggalan d keyboard… Trnyata panitianya bilang g ada, y udh, gw turun deh.

Sampe bawah, gw ktemu caippe yg lagi nyari jajanan, bu Meike, RG, sama guru2 lainnya jg lg jajan, tuuh, aaah… T__T Trus gw blng ma RG, “Romooo,janjinya mau nraktiir…???” hahaah, bis gitu si RG cm senyam senyum, “Kamu mau ditraktir apa?” gt katanya sambil senyum… Gw lngsng lari nyari caippe, “Caippeee!!! mau ditraktir apa?!” gw nanya dgn toa… “Eh, dia beneran mau nraktir? Apa ya..?” Akhirnya setelah kliling2, kita br2 memutuskan buat beli yogurt…

kita pun balik ke tempat guru2 itu lg jajan, caippe bediri di depan gw n ngomong duluan…. “Romo..” gw megang punggung caippe n ngintip sok cute dr pundak kiri dia, ” Beliin yogurt doong!!” Lalu s RG tanpa ekspresi ngluarin 30 rebu dr dompetnya… (buset, ni orang sk2 tajir gitu…) waktu kt udh jalan gw nanya, “Romo mau pesen apa?” “ee… bliin aku nestea deh!” ya udh, gw ma caippe jalan k stand yogurt itu yg ternyata sebelahn sm yg jual nestea… “Waduh, nesteanya abis tuh, gimana dong?” tanya caippe… “So what, y udh, g usah bliin…” muakakak!!! kita brdua lngsung ngakak sambil buka tutup yogurt itu.

Trnyata rombongn guru2 itu kykny udah slese jajan di sono. Jadi mreka nyusul kita brdua… hahahah, kita balikin kembalian blanja tadi, sepertinya sih… tu orang sadar sendiri klu barang yg dipesennya td abis, jd dia kompakan d ma kita, beli yogurt, hahaahah!!!! (gw beli yg stroberi, caippe orange, RG anggur) Trus tu orang langsung minum dgn cepeeet banget! trus si caippe ngajakin gw tosan, gw dapet ide.. “Ah, romo2!!! Jangan diabisin duluu!!! Cheersz!!!” tu orang cm senyam senyum gara2 dikerjain duo geje gw n caippe, tp akhirnya dia beneran ikutan cheersz juga!! Yup, abis gt, kita memutuskan untuk.. pulaang, kembali ke sanur…

Kli ini pak bernard g ikut,hihihihi…. di mobil kita ngomong2 geje bout music n materi yg bakal diajarin slanjutnya… ahahahah!! Dia kayaknya baru inget kita brdua beda angkatan, emang sebelumnya dia g pernah nyadar? Huwaaa, klas 8 enak banget, bakal sikasi materi analisis fugue T__T curaaang, aku jg mauu!! Dulu kita cm diajarin materi analisis sonata n menurut gw itu tetep aja g aciik, acikan analisis fugue. 

Akhirnya, sanur, kita nyampee!!! “Cmon, children!” Gitu kata c RG, hahaah!! Emang kita anaknya apa?!! hahah, akhirnya kita keterusan ngomong, “dah, papii!!!” Nah, pas udh turun dr mobil,dia manggil kita lg, ternyata dia ngasih.. buku editan dia!?!?! Pesan dia adalahh… “Igna, kasih ke papa, ya. Ini buku editan saya, terjemahan dari bahasa Yunani.” walaah, ini siih, bokap gw bisa loncat kgirangan! Didache, dia mang udh nyari ini dr dulu.. owow…. n ‘papi’ pun berlalu, gw n cai duduk2 di korsi depan…

Kita ngobrol2 di sana, “maaf ya, td gw lebay..” N sgala pembicaraan…. gw seneng bgt krn ad gw ini ternyata dekeet bgt ma gw, rasanya emang gw g baklan tega pisah sama dia. Trus tiba2…, “kamu tepok2 aku dong..” ah, beneran? Gw scara demen bgt tepok2 dia, jd gw lakuin aja, begitu kt ber2 nengok ke lorong yg pintu kluaar….. MS KRISNAA?!?! “GYAAAAH!!!!” spontan kita brdua langsung treak n menjauh, soalnya ms krisna sepertinya memperhatikan kita dgn tatapan O_O begitu!! 

Habis itu caippe langsung jd down, n ngucapin berulang-ulang, “… hancurlah harga diri gw… besok kita bakal jd skandal di skul..” aaah, gawaaat… T__T

Akhirnya caippe pulang jg naek bus, sedangkan gw mesi nunggu lama lg di skul. Hmm, setelah telponan sebentr sama caippe rupanya gw udh dijemput. Y udalah, gw pulang. N begitu sampe rumah gw langsung ngasi buku itu k bokap gw, ternyata.. dia suka bangeet…

duh, best day ever dah!

Gawaaat… O_o gawat banget lebih tepatnya gara2 tu anak a.k.a c “bakpao idup” itu isi narkoba… aaah!!! Bener2 bikin kcanduaan!! T__T - air mata bahagia campur glisah, geje.

Cih, gawaat… saking imutnya dia gw ga bisa nglepasin tilpon dari kuping gw!!!! trus.. klu lg chating, mendadak dia off, boro2 d, ambil hape, tilpooon!!! Duh, sampe jam… 10 malem? yaah, betuulll….

C bakpao ini yaaah.. bikin GMEEES!!!! Mukanya tu bulet bgt, lucuuuu!!! Uda gitu dia t wangiii (O_O wa…ngi..??), manis2 gitu… ih,ada zat adiktip ny. Ganja ya? aaah!!!

…trus apalagi yaa T__T Pokoknya sicom gw makin akut aja deh…. Duh, ga tahan rasanya g ngliat muka tu anak, sehariiii aja. Tp klu bgt dia lg snyam snyum dpn gw, OMG… sumpeh, gw g kuat ngliat mukanya, cute bngt…  Muka gw bs mpe merah sndiri ngliatin dia… 

Bener ga ciii… gw siscom sama ‘adek’ gw… ?? Rasanya khawatir aja klu ndak ada kontak dr dia… aaaww… @_@  Kangen bgt nepok2 kpala dia, hahahah!!! Gw sendiri heran, dia demen bgt ditepok2 kpalanya… Duh, imuuut!!!!! Jd pengen d nepok2 kpala dia diiringin Clair de Lune nya debussy mpe dia bobo, iiikh!!! LUCUUUUU!!!!

Hmm. hari ini  gw membaca d suatu tempat sesuatu yg sdikit nyindir mengenai ‘adek’ gw ini n gw… yaaaah, sdikit tersinggung. Duh, brarti gw siscom akut ya? Tiap hari minimal telpon 1 jam, kemaren bela-belan interlokal dari Medan. O_O 

Tapi gw cukup hoki berhubung dia pake kartu yg sama ma gw, jd murah, hahahah!!!! 

T.T Sister complex… ke mana2 br2, g bisa lepas, rasanya sepiii bgt klu yg satu ndak ada, mati2an bela-belain sodaranya, curhat2an lewat surat/sms/chatting, palagi yaa… Oh, main duet via hape, masterclass pake youtube, hahah!!! Online di pi-s pasti brng!! Apalagi ya..? Suka cp, tp gw matahin kuas dia tanpa sngajaa… (waduuh, sori bgt T.T ntar gw ganti..)

SI kakak ini… pernah nangis ngraung2 gara2 mesti pisah sama ‘adek’nya, hahahha!!! Kcian juga dia disindir mulu ma temennya klu lg jalan br2 ma adeknya. Kadang malah dikira… yuri. Pernah Pak Iwan cngar cngir gara2 mergokin 2 anak ini lg br2an, hahahah!!! dih, geje2… 

T.T sister complex… duuuh….

Audisi di depan mataaa!!!

Hari demi hari berlalu gw lewatkan bersama cai, duet brg di aula abis pulng skul… Biasanya c kita maen santai, n sprt biasa pula… cai di piano, gw recorder. Kdng gw minta dia jg c mengrhkan gw main Chopin… aaah.. aku cinta kamu, Chopin!!!

So… stlh mid semestr hari ini, gw n cai duduk di dpn perpus. Smbl memilah-milah bahan buat “masterclass” (gile, bhsnya keren abisz, bo!). Dari czerny, duvernoy, smp mazurkanya chopin, hehehehe… cai mngeretekkan tangannya n ngomong k gw, “Bersiaplah, gw galak, lho…” dgn senyuman mngrikan di wajahnya. Gw lgsg kringet dingin, iiiikh!!!!!

Abiz gitu, rencana kita adlh: pergi ke TU, minjem konci piano aula.

G atunya, TU nya ga ada!!! Najis!! wegz, akhirnya kt udh kyk penganggurn di dpn aula… bacain music score, smbl si cai jelasin k gw bgn mana aj yg prlu gw prhatiin. haaah, yah, smbl nyetel musik… Hahah!!!! kenangan jaman gw ma si cai br knalan tuh! Dia suka manggil gw ignition doeloe…. 

oke, jam sbelas cai pulaang… T.T aaah, gw g mau dia pulaaaang!!! Ntar gw sendiriiiii!!!! Tapi, y krn berhubng dia udh dijemput yaaaah…. Gw mngntrkn dia dgn berat hati smpe k tong sampah smpng katedral.

Balik, deh.. ke depan perpus. Makin tambah kyk penganggurn gw. Trus, wkt gw mo ngambil map item dr dlm tas gw.. OMG!!!! Ada RG?!?!?! ngapain dia k sini..?!?! Ya udh, gw nyapa normal aja… Dia blng c mo ngantrin nilai…

Oke, deh. di amsuk, gw lanjut latian recorder. Berhubung sepi ni, jd gw nyoba aja d, bgn minuet ma trio ny sonata in g. Hmm… sgiht readning c, msh bnyk yg salah2, staccato ny g gw baca….

Tiba-tiba aja…

“Kamu bgs kok mainnya.”

WHA-?!?!? He’s standing in front of me?!?! Spontan tiupan recorder gw langsung jd “pheeeeee” gitu! Gw langsung ngakak n toanya kluar, “Ngapain lo di sini?!?!” (harusnya g pake lo, c…. tp kira-kira gtlah intinya..)

Ugh, sebel… latihan gw diganggu…. mana dia minta tolong yg aneh2 lagi… khiiiik!!!! bete bete bete.. Tapi ada satu kata yg mengejutkan gw…

“Na, Selasa kita audisi ya..!”

Whaaaaat!??!!? Selasa audisi?!?! mati gw… cepet2 gw ksh kabar ke cai… “Cai, selasa kita audisi.” nggak taunya reaksi si cai adalah… “Yeeeees!!! Akhirnya audisi juga!!”

Cai sableng!! Tapi gw tau c, ciedeeeh cai kn mainnya bgs bgt… gw aja hampir nangis wkt dia maen tu fantaise impromptu n KV330 itu… raaaawr

Cai c udh pasti keterima, tp klu gw, hmmmm….. Mungkin emang gw mesti brusaha lebih giat ni…

Okay, jd buat audisi gw bkl maen first movement sonata in g bareng cai. Cai bakal maen KV330 sama Welltempered Clavier (tp gw lupa dia bkl maen yg mana)… Nyahahahah…. Doakanlah semoga kami behasil ;)

DAMMIT….

Akhir-akhir ini, gw males bgt ngerjain segala sesuatu. Pe-er kek, latian piano kek, organ, kek, baca buku, kek…. Pokoknya males bgt….

Gw lagi nggak sreg ngerjain apa-apa, yaaah… lagi bete, corat-coret nggak karuan di kertas, udh kayak gambarnya picasso aja, hehehe… apa Van gogh?

Akhir2 ini gw juga kepikiran buat ngebunuh orang…. hehehe… semuanya pengen gw bunuh… Mti aja lo pada, gw kan bisa jadi the ruler of the earth, muahahaha!!!! (ooops, sorry…)

Okay, so? Gw lagi depresi beberapa hari ini… yaaah…. g tau kenapa… gw banyak merasakan bad aura yg nanchep bo… yah, yg salah gw juga c. Tp tetep aj berkubang di awan gelap kn g enak…

nyuuuw…? Sementara itu kak Teguh Sukaryo makin anjrid aja… pengen gw bunuh gara2 tu org… aaargh!!!! trus en-san yg ternyata playboy, nyooo….. Rainbow gara2 dia main f.i., (wah, g bener ni, sori ya, ^^;)… Truuuus Alan? Ya ampyuuun!! gw lupa ngirim nomor hape gw k dia!! Sori bgt, lan! Trus kak Erlan pratama, aku belum nyoba bradenburg con. ny, kayaknya g kekirim ke e-mail aku soalnya, sori ya, kaaak…

Buat temen2 pianostreet… How’s the hanon wars, hehehehe? ^^ 

nyooooo….. Menantikan kumik br kluar niii….

Ini bener2 keajaiban dunia di mana td siank dgn gejenya, gw lari2 sambil lompat2 n triak histeris sndr d lpgnn tengah… Sumpah wkt itu gw mrs udh terbang ke surga, k lgt ketuju, pokoknya gt d….

Gw bener-bener amat sangat senang sekali banget wkt itu… He..he..he… Pokoknya gw udh kayak org gila cuma gara2 satu ramalan gw yg gw pikir g bakal nyata, g twnya bnrn nyata….

Wkt ramalan gw itu trjd, jantung gw cm dag-dig-dug doank.. G ada reaksi lain. Dan gw cm bisa bediri, diem, psg smile, g percaya precognition gw terjadi persis sampe detil2 kjadiannya…

St.Valentine, gw bnr2 brtrima kasih krn doa gw dikabulkan. Smg niat baik org itu g diartikan macem2 aj ma org lain ya, he..he..he..

Teddy bear lama gw yg dibw sama sepupu gw, Banzaaaiiiii!!!! Gailbright, makasi bgt, lo emank pergi, tp pengganti yg lo brikan bnr2 berharga buat gw!!! Thx 4 all, lo bnr "angel of bright" kluarga gw..

Tuhan, bnr2 trima kasih bwat hr ini. Makasi juga bwat semua yg udh gw lakuin smasa idup mpe hari ini…

God… You’re the best… Please bless us now and 4ever more…

(ha..ha..ha… gw nulisnya geje gt, kejadiannya g jls, knp gw smp lompat2 gt ha..ha..ha…!!!! Rahasia…)

Older Posts »