Kalo gua sama princess L lagi online, biasanya kita bikin cerita tertentu atau ngasih masukan buat cerita yang lagi dibikin masing-masing. Cerita ini adalah karangan gua dengan banyak masukan dari princess L. Boleh disimak kalo tertarik, hehehe….
-part 1-
Tanpa sengaja matanya menangkap sebuah sosok yang terbaring di tengah jalanan yang basah karena air hujan. Rupanya seorang gadis muda, Dokter Ray tanpa pikir panjang cepat-cepat menolong gadis itu dan membawanya ke tempat yang teduh.
‘Buka matamu!! Kau tidak apa-apa, kan?! Hei!!!’
Naluri Ray sebagai seorang dokter merasakan ada yang tidak beres. Ia cepat-cepat membawa gadis itu ke rumahnya untuk memberinya perawatan lanjutan sebelum hal gawat terjadi.
Gadis itu masih muda, umurnya mungkin masih belasan dan tampak begitu menderita. Tubuhnya penuh dengan bekas luka, baik yang sudah lama maupun yang cukup baru dan napasnya berat.
‘Sundutan rokok, ada sayatan pisau juga, anak ini…’
Dokter Ray memperhatikan satu-satu bekas luka itu dan mengelusnya perlahan. Gadis itu perlahan membuka matanya dan kaget melihat Dokter Ray di sampingnya.
‘Kau siapa?!’
‘Tenangkan dirimu, aku Dokter Ray. Kau tadi tergeletak pingsan di taman saat hujan deras. Apa kau.. tidak apa-apa…?’
Gadis itu tampak mendung dan mengalihkan pandangannya.
‘Aku tidak apa-apa, Dokter… mungkin hanya butuh istirahat…’
Dokter Ray masih menatapnya tajam, gadis itu menyembunyikan sesuatu.
‘Kenapa kau bisa terluka seperti itu?’
‘…’
‘Jawab…’
‘… Bukan apa-apa…’
‘Tidak mungkin sebuah luka bisa muncul sendiri tanpa alasan.’
Gadis itu mulai menangis,
‘Aku… tidak tahu…!!’ teriaknya.
Tiba-tiba saja gadis itu terbatuk dan memuntahkan darah. Dokter Ray terkejut setengah mati dan cepat-cepat mengelus punggungnya serta mencarikan obat penenang untuknya.
‘Maaf, aku tidak tahu kondisimu parah sekali. Besok kau akan kubawa ke rumah sakit, mau menelepon keluargamu, barangkali?’
Gadis itu tampak begitu lemah di atas tempat tidur, ia menggenggam tangan Dokter Ray dan menggelengkan kepalanya.
‘Jangan… tolong, jangan…’ pintanya memelas dengan mata yang berkaca-kaca dan suara yang serak. Dokter Ray menghela napasnya.
‘Baiklah, tapi jangan gegabah. Jika ada yang bisa kubantu, katakanlah. Tidurlah yang nyenyak malam ini…’ Dokter Ray mematikan lampu dan meninggalkan gadis itu dalam kamarnya sementara ia tidur di sofa.
‘Luka itu jelas bekas penganiayaan… Gadis yang malang…’
Keesokan harinya, Dokter Ray, kembali bersiap untuk menjalani kesehariannya di Rumah Sakit Rosemary, San Fransisco, tempat ia sehari-hari bekerja sebagai dokter junior di sana. Dilihatnya gadis kemarin masih terduduk di atas tempat tidurnya dengan pandangan sedih memandang ke luar jendela. Dokter Ray mendekati gadis itu dan menepuk pundaknya.
‘Ada apa di sana?’
Gadis itu terkejut dan menggelengkan kepalanya.
‘Tidak ada apa-apa…’
Tiba-tiba rasa sakit menyerang gadis itu dan ia dengan cepat meringkuk sambil memegang perutnya.
‘Ke..kenapa?!’
‘Tidak tahu… tapi… sakit…’ jawabnya lirih.
Dokter Ray tidak membuang waktu lagi, segera diteleponnya ambulans untuk menjemputnya. Sementara menunggu, ia berusaha menenangkan gadis itu sembari melihat kesempatan untuk mengorek informasi tentang dirinya lebih dalam.
‘Apa yang terjadi padamu? Apa kau bisa… cerita tentang itu?’
Gadis itu tidak menjawab, hanya ekspresi sedih bercampur kesakitan memenuhi wajahnya dan membuat Dokter Ray semakin kasihan padanya.
Ambulans tiba tidak lama setelah, itu. Gadis itu segera dibawa ke ruang pemeriksaan sementara Dokter Ray berbicara dengan mentornya, sang kepala Rumah Sakit itu.
‘…Begitulah, Dokter Austin. Gadis ini perlu ditolong secepatnya.’
Dokter Austin menghela napasnya. Dokter Ray muridnya, masih baru dan belum berpengalaman, namun bakatnya menarik perhatian.
‘Ray, kita lihat saja nanti… Tapi percayalah, kami akan melakukan yang terbaik untuknya. Bukankah seorang dokter berkewajiban menyelamatkan nyawa pasiennya?’
‘Tidak itu saja, Dokter Austin… Seorang dokter harus berjuang agar pasiennya mau memperjuangkan hidupnya adalah tugasnya yang kedua. Aku khawatir gadis ini tidak memiliki semangat hidup lagi setelah penganiayaan yang dialaminya…’
‘Ray, apa yang mendasari pikiranmu itu? Tidak baik kau berbicara demikian tanpa bukti.’
‘Aku juga korban penganiayaan keluargaku sewaktu kecil…’
‘…’
‘Aku tahu persis bagaimana perasaannya dan kondisinya… Mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa…’
Dokter Austin tersenyum pada Dokter Ray dan menepuk pundaknya.
‘Yaah, kalau begitu pasien ini kuserahkan padamu saja, sekedar untuk menjadi pelajaran, bagaimana?’
‘Eh?!’
‘Ray, dengarkan… Ini pasien pertama di bawah pengawasanmu.Kulihat kau memiliki potensi besar dalam menyelamatkan nyawanyadibandingkan denganku. Jangan mengecewakanku… Lakukan yang terbaik. Semoga berhasil, Ray! Selamatkanlah nyawanya…’
‘Si..siap, Dokter!!’
Setelah pemeriksaan yang cukup lama, seorang perawat bersama Dokter Christine, sang ahli kimia, keluar dari ruang pemeriksaan dan memberitahukan hasilnya pada Dokter Austin dan Ray.
‘Pasien bernama Yvonne Zen, usianya masih 17 tahun. Diduga merupakan korban penganiayaan fisik berdasarkan luka-luka yang terdapat di tubuhnya. Korban mengalami depresi dan menolak menceritakan apa yang terjadi. Selain itu…’
Dokter Christine terdiam dengan wajah yang serius menatap paragraf terakhir dalam laporannya tersebut.
‘Ada apa? Masalah serius?’
‘Sangat serius, Dokter Austin… Anak ini terinfeksi Nocturne rupanya…’
‘No.. nocturne?! Tidak mungkin!!’
‘Saya tidak main-main… reaksinya positif. Anak ini butuh perawatan intensif secepatnya.’
‘Dokter Austin, apa yang…’
‘Christine, pindahkan ia segera ke ruangan yang sesuai sementara aku akan berbicara dengan Ray. Lakukan yang terbaik!’
‘Siap, Dokter… Dokter Ray, kudengar pasien ini di bawah pengawasanmu. Kuharap kau tidak mengecewakan mengingat ini pasien pertama di bawah pengawasanmu… ‘
Dokter Christine berbalik dengan wajah yang dingin meninggalkan Dokter Ray dan Dokter Austin.
‘Ray, dengarkan… Ini masalah serius…’
‘Mengenai.. Nocturne?’
‘Ya…’
‘Dokter, apa itu sebenarnya?’
‘…Nocturne, virus berbahaya yang muncul beberapa tahun lalu akibat kebocoran fasilitas pemerintah. Sebenarnya virus ini adalah sebuah senjata biologis dan merupakan penyakit yang tidak tersembuhkan. Para dokter bekerja sama dengan para ahli kimia telah berhasil mengisolasi dan menekan kekuatan virus itu di udara hingga titik terendah, sebab memusnahkan semuanya adalah mustahil. Entah kebetulan apa yang membuat virus itu kembali hidup di tubuh gadis malang itu…’
‘Dokter..?’
‘Dari yang kulihat, virus di tubuh gadis itu belum terlalu ganas. Nocturne yang sebenarnya dapat menghabisi nyawa manusia hanya dalam waktu beberapa menit. Tapi terimalah kenyataan, Ray… Gadis itu.. ia tidak akan bertahan lebih lama dari dua musim semi di sini.’
‘Dokter!’
‘Ray, dengarkan… Pilihanmu ada dua. Gadis ini tidak memiliki keluarga yang akan membiayai biaya rumah sakit, ingat dia korban kekerasan. Pilihan pertama, lakukan Euthanasia, biarkan ia tidur dengan tenang sekarang juga. Pilihan kedua, kalau kau mau tetap memperjuangkan hidup gadis itu, gajimu akan kupotong, tapi kau boleh merawatnya selama ia masih hidup.’
‘Tentu saja kupilih yang kedua, Dokter Austin!! Nyawa gadis ini sangat berharga!! Mana aku tega melakukan prosedur Euthanasia padanya?!’
‘Tapi kau siap hidup dalam kemelaratan apabila gajimu dipotong?’
‘Lebih dari siap, Dokter…’
‘Begitu? Kupercayakan gadis ini padamu kalau begitu… Christine akan kuminta untuk melakukan penelitian terhadap obat pemusnah Nocturne secepatnya…’
‘…’
Dokter Ray melangkah masuk ke dalam ruangan Yvonne. Tampak perawat yang tadi masih ada di dalam sambil mencatat kondisi Yvonne yang masih tertidur lelap.
‘Bagaimana?’
‘Suhu tubuhnya naik dan tidak mau turun… Beberapa organ dalam fungsinya menurun secara bertahap dan jaringan tubuhnya menipis akibat perbuatan virus itu…’
‘Berbahaya?’
‘Tenang saja Dokter, laporan tadi berdasarkan pada penelitian dalam tingkat sel. Jadi perkembangannya sangat lambat dan masih memungkinkan pihak kimia membuat obat penawarnya…’
Perawat itu tersenyum menatap Dokter Ray yang tampak khawatir dengan gadis muda itu. ‘Kalau begitu saya permisi dulu, Dokter…’
‘Ah, ya… terima kasih, Amanda!’
Suster Amanda meninggalkan ruangan dan meninggalkan Doker Ray hanya berdua bersama Yvonne di ruangan itu. Dokter Ray memperhatikan bekas rotan di tangan Yvonne, mengingatkannya pada masa kecilnya yang mengenaskan.
‘Kasihan sekali… Bahkan keluarga gadis ini tidak peduli dengan kedaannya…’
Tiba-tiba Yvonne tampak menggeliat di bawah sadarnya dan air mata mengalir di wajahnya.
‘Sa..sakit…! Jangan.. pukul… Tyler… jangan.. pergi…’
‘Tyler..?’
Yvonne terisak dengan nada penuh kesedihan, sementara Dokter Ray mencoba menebak apa yang ada di dalam mipi gadis muda itu. Perlahan Dokter Ray mengelus kepala Yvonne dan Yvonne akhirnya dapat kembali tidur dengan tenang. Dokter Ray menempelkan tangannya di dahi Yvonne, memang benar, suhu tubuhnya panas dan tidak turun juga sejak semalam.
Dokter Ray menungu sampai Yvonne terbangun beberapa jam berikutnya. Ketika Yvonne membuka matanya, Dokter Ray segera menyapanya dengan lembut.
‘Ah, selamat siang, Yvonne. Bagaimana persaanmu?’
Yvonne tidak menjawab, namun Dokter Ray mengulurkan tangannya dengan lembut.
‘Senang berkenalan denganmu… Namamu indah sekali…’
Wajah Yvonne memerah karena malu.
‘A…aku…’
‘Ya?’
‘…Senang.. berkenalan denganmu juga, Dokter Ray…’
Dokter Ray memandang gadis itu yang menunduk malu sekaligus senang dipuji olehnya.
‘Kudengar umurmu masih 17 tahun? Kau masih muda rupanya, pantas saja.. cantik…’
‘!!!’
Yvonne cepat-cepat menarik bantal dan bersembunyi di belakangnya.
‘Aku tidak mau dibilang begitu lagi…’
‘Ada apa…?’
Tampak setitik air mata di sudut mata Yvonne.
‘Dokter… kau tak perlu kasihan padaku… hanya karena luka dan penyakit mematikan di tubuhku…’
Dokter Ray tersentak,
‘Jadi kau sudah tahu perihal Nocturne di tubuhmu?!’
Gadis itu mengangguk dengan wajah yang sedih.
‘Tak perlu mengasihaniku… Aku toh akan mati sebentar lagi. Kau seharusnya membiarkan aku di jalanan saja…’
‘Yvonne…’
‘Bisa tingalkan aku sendiri dulu?’
Dokter Ray menghela napasnya dan akhirnya meningalkan Yvonne sendirian di kamarnya.
‘Dokter Ray?’
‘Ah, Dokter Christine! Bagaimana hasil penelitiannya?’
‘Aku menemukan gadis ini tanpa sengaja tertular melalui virus Nocturne beberapa tahun yang lalu di udara bebas. Tapi… ini mengejutkan. Bagaimana bisa sebuah virus bertahan di udara bertahun-tahun?! Ini jelas suatu…’
‘Dokter, Yvonne bagaimana?’
‘Ah, ya, Yvonne… Perlahan tapi pasti virus itu memakan jaringan tubuhnya. Aku sudah mencoba SEMUA cara dan nampaknya virus ini luar biasa bandel.. Aku tak jamin gadis ini tak akan bertahan lama, Ray…’
‘…’
Dokter Christine menepuk bahu Dokter Ray,
‘Sudah kau lupakan saja gadis itu! Kan di dunia ini masih banyak gadis lain yang lebih cantik darinya?’
‘Dokter Christine, aku menyembuhkan pasien, bukan mencari kekasih…’
Dokter Christine tertawa dan air mukanya kembali serius.
‘Kau benar, lakukanlah yang terbaik, Ray… Sampai jumpa dalam rapat nanti malam…’
Malam tiba, Dokter Ray kembali memeriksa kondisi Yvonne sebelum jam malam dimulai.
‘Yvonne, kau akan kuberikan obat penenang agar malam ini kau dapat tidur dengan nyenyak, bagaimana?’
Yvonne menatap Dokter Ray dengan tatapan yang sedih.
‘Apa tak ada obat yang dapat membuatku tidur selamanya, Dokter?’
‘Yvonne!!’
‘Aku mengerti… lakukanlah…’
Dokter Ray menyuntikkan obat penenang tersebut ke dalam tubuh Yvonne dan membiarkannya berbaring di tempat tidurnya.
‘Reaksinya mungkin akan terlihat sebentar lagi. Tidurlah yang nyenyak, Yvonne…’ kata Dokter Ray lembut dan meninggalkan Yvonne sendirian di kamarnya dan menuju ruang rapat.
Ruang rapat telah ramai dengan seluruh staff Rosemary di dalamnya. Dokter Ray mengamati satu persatu wajah para dokter dan perawat senior maupun junior di sana yang semuanya tampak serius membicarakan perihal yang cukup penting. Dokter Ray mencari tempat duduk bertandakan namanya di meja, namun suasana rupanya terlalu ramai dan menyulitkannya untuk mencari tempat duduknya.
‘Psst!! Di sini, Dokter Ray!’
Rupanya tempat duduk Dokter Ray adalah di sebelah Dokter Christine. Tanpa pikir panjang, Dokter Ray segera mengatur posisi duduknya dan menunggu acara rapat yang akan dimulai sebentar lagi. Tampak Dokter Austin memasuki ruangan dan ruangan menjadi sunyi senyap setelah beberapa saat. Dokter Austin berdeham, siap memulai rapat.
‘Staff Rumah Sakit Rosemary sekalian, saya memohon maaf atas ketidaknyamanan untuk mengadakan rapat mendadak seperti ini. Tapi, mohon dimaklumi… Kita sedang menjalani krisis dan kondisi berbahaya tingkat tinggi yang gawat apabila terjadi kesalahan teknis.’
Lampu ruangan rapat dimatikan, slide presentasi mulai diputar dan Dokter Austin tampak berdiri sambil menjalankan pointernya di atas slide presentasi.
‘Saudara-saudara dokter dan perawat senior tentunya pernah mendengar tentang virus ilusi Nocturne yang menyebabkan puluhan staff peneliti negara meninggal dunia dalam waktu hitungan menit. Dan entah keberuntungan apa yang membuat kita… berhasil membekukan virus itu untuk sementara. Hanya DIBEKUKAN. Saudara, informasi terbaru menyatakan bahwa Rumah Sakit Rosemary hari ini menerima pasien baru dengan gejala Nocturne di tubuhnya…’
Para dokter langsung berbisik-bisik satu sama lain seakan tidak percaya akan hal itu. Suasana ruang rapat mulai panas dan ramai setelah pernyataan Dokter Austin tersebut.
‘Harap tenang, saudara-saudara! Dokter Christine telah melakukan penelitian terhadap virus tersebut dan bersedia mempresentasikan laporannya di hadapan kita semua pada malam hari ini. Kita dengarkan saja, bagaimana tanggapannya…’
‘Terima kasih, Austin, akan kulanjutkan…’
Dokter Christine menyelipkan flash disk miliknya di laptop yang dipakai untuk presentasi tersebut dan membuka file miliknya.
‘Jadi saudara-saudara… Menurut penelitian saya, ada 3 objektif yang dilaksanakan oleh virus tersebut untuk menghentikan kehidupan. Pertama adalah menngekskresikan racun yang membuat penderita mengalami panas tinggi di mana racun tersebut merupakan zat yang tidak dibutuhkan olehnya pada saat pembelahan. Kedua adalah membentuk jaringan yang menyambungkan jaringan antara jaringan bentukan virus dan jaringan organ tubuh yang sehat. Ketiga, mereka akan memakan jaringan organ tubuh hingga menipis dan akhirnya hilang…’
Ruangan menjadi sunyi ketika pernyataan tersebut dibacakan oleh Dokter Christine, tampak ada seberkas ketakutan pada wajah para dokter.
‘Pasien dinyatakan meninggal saat seluruh jaringan tubuhnya tidak dapat lagi menopang fungsi mereka masing-masing. Kematian dipastikan ketika organ tubuh mereka tidak berfungsi… atau rusak total… Akan tetapi hasil penelitian yang kami lakukan pada pasien tersebut menunjukkan adanya kerusakan pada membran penghasil kode genetik pada virus. Sehingga memperlambat daya kerjanya hingga 90 persen lebih dan memberikan pada kami waktu untuk menemukan obat pencegahnya.’
Para dokter mulai ribut lagi dengan obrolan mereka masing-masing. Dokter Austin mengambil mic dari tangan Dokter Christine dan kembali melanjutkan.
‘Untuk mengatasi segala kemungkinan terjadi, kami membuat unit yang untuk selanjutnya disebut sebagai NAT-Nocturne Anticipation Team- yang anggotanya saya pilih sendiri. Tim ini akan menjadi penggerak utama sekaligus barisan paling depan dalam antisipasi terhadap Nocturne di Rosemary maupun biohazard-nya.’
Dokter Ray mendengarkan dengan seksama sambil memain-mainkan pena bersenter miliknya yang tergantung di saku kemeja dokternya.
‘Yang pertama, Dokter Christine sebagai ahli kimia dan biotek. Yang kedua, Dokter Kohler, untuk anesthesiolog dan antisipasi terhadap tindakan ekstrem pasien. Yang ketiga, Dokter Raveev, sebagai psikolog. Keempat, Dokter Ray sebagai penanggung jawab pasien…’
Dokter Ray tersentak mendengarnya. Jantungnya berdebar, sungguh di luar dugaan ia termasuk dalam tim inti dalam kejadian penting di rumah sakit itu.
‘Dan yang kelima adalah saya sendiri, Dokter Austin sebagai penanggung jawab dan ketua utama dari NAT. Saya harap dokter yang terpilih dapat bekerja dengan keras, dan untuk semua staff yang hadir di sini, saya sangat memohon kerja sama anda semua dalam antisipasi terhadap Nocturne. Sekian saja untuk rapat mala mini. Anda semua boleh bubar…’
Dokter Ray meninggalkan ruangan dengan gundah bersama Dokter Christine.
‘Dokter Christine, aku…’
‘Percaya dirilah, Ray kalau kau serius ingin menyelamatkan gadis itu. Nocturne di tubuhnya terkena dampak antivirus pemerintah beberapa tahun lalu dan membeku akibat membran seperti lapisan sabun. Ini rupanya yang membuat ia awet selama bertahun-tahun…’
‘Cepat sekali penelitianmu!’
‘Tentu saja… aku selalu cepat, Ray…’
Dokter Austin menepuk pundak Ray.
‘Ray, apa kau tidak keberatan untuk tinggal di rumah sakit selama perawatan Yvonne Zen?’
‘A..apa?!’
‘Yah, ini hanya tawaranku saja… Jadi kau tetap bisa mengawasinya 24 jam dalam sehari…’
‘Boleh saja…’ jawab Dokter Ray mantap.
‘Aku terpesona dengan sifat kedokteranmu, Ray. Padahal kau masih muda… Jagalah sikapmu itu dan jadilah dokter yang hebat…’
Dokter Austin tersenyum dan meninggalkan ruangan. Dokter Ray terdiam dan menyusulnya.
Suasana malam itu sunyi senyap, lampu rumah sakit telah dimatikan, Dokter Ray berjalan sendirian menuju kamar Yvonne ketika ia bertemu dengan Dokter Kohler, sang jenius yang haanya lebih tua beberapa bulan darinya.
‘Kohler?’
‘Ah, kau rupanya, Ray… Ingin melihat ‘Sang Inkubator’ itu, ya?’
‘Kohler! Apa hakmu bicara begitu tentang Yvonne?!’
‘Hadapilah kenyataan, Ray… Hidupnya tidak lama lagi, kurasa ia di sini hanya dianggap sebagai inkubator dalam penelitian Nocturne. Sebab virus di dalam tubuhnya adalah jenis yang lama bereaksi untuk penelitian. Daripada ia menderita terus… mau kulakukan Euthanasia?’
‘Tidak akan Kohler! Ia pasien di bawah pengawasanku!! Awas kalau kau melakukan apa-apa terhadapnya tanpa seijinku!!’
‘Oh, ya sudah… kau memang susah diperingatkan…’ Dokter Kohler tersenyum sinis dan berlalu begitu saja.
Dokter Ray menarik kepalan tangannya dan dengan kesal kembali ke kamar Yvonne.
Yvonne tengah tidur dengan nyenyaknya. Mungkin suntikan obat penenang membuatnya dapat melupakan masalahnya selama ini. Dokter Ray memperhatikan wajah pasien pertama di bawah pengawasannya itu dengan seksama. Ia ingin pasiennya tersebut memiliki harapan hidup lagi, ia harus membangkitkan semangat hidupnya.
Dokter Ray tertidur di samping tempat tidur Yvonne karena lelah yang menggeragotinya. Perlahan satu-persatu luka di tubuh Yvonne membawanya pada pengalaman masa kecilnya.
…
‘Ibu!! Sakit!! Hentikan!!!’
…
‘Aku tidak butuh anak sepertimu… Kau mati saja…’
…
‘Ayah, ayah di mana? Kenapa tidak membantuku?’
…
‘Kau tahu? Adikmu berhasil meraih beasiswa pergi ke luar negeri.. kau tidak berguna…’
…
‘Ingin membunuh Ray? Kurasa ide yang bagus asal tidak ketahuan…’
…
’Selamanya kau hanya sampah masyarakat…’
…
Tidak terasa hampir setahun Ray menjadi penanggung jawab Yvonne. Yvonne telah membuat cukup banyak kemajuan, ia sekarang cukup banyak berbicara dan melaporkan keluhannya kepada para dokter meskipun virus itu rupanya telah menggeragoti tubuhnya lebih cepat dari perkiraan. Yvonne jadi lebih sering mimisan dan daya tahan tubuhnya menjadi begitu lemah.
‘Yvonne? Kau mau jalan-jalan?’
‘Boleh saja…’
Dokter Ray membantu Yvonne menaikkan tubuhnya ke atas kursi roda dan mendorongnya.
‘Yuk, kita mau jalan-jalan ke mana? Ke depan barangkali?’
‘Terserah Dokter saja…’
Yvonne menjawab dengan wajah yang merah. Selama setahun Yvonne berada di Rosemary, tidak seorangpun kecuali Dokter Ray yang berani mendekatinya layaknya saudara. Semua takut tertular penyakit dalam tubuhnya yang tidak dapat disembuhkan itu. Setahun sudah Dokter Christine mencoba mencari penawar untuk virus berbahaya tersebut, tapi hasilnya nihil. Setahun… tidak ada kabar sama sekali dari keluarga Yvonne. Yvonne memandangi wajah Dokter Ray yang mendorong kursi rodanya tersebut.
‘Ya? Kenapa?’ tanya Dokter Ray dengan lembut.
Yvonne tidak dapat menyembunyikan rasa malunya karena dipergoki seperti itu.
‘Tidak, kok… tidak ada apa-apa…’
Tiba-tiba saja Suster Amanda berlari tergopoh- gopoh ke arahnya.
‘Dokter Ray!! Kita ada pasien darurat!!’
‘Ah, tapi.. aku sedang menangani…’
‘Kita kekurangan tenaga medis!! Semuanya sedang dalam istirahat atau menangani kasus kritis yang lainnya!!’
‘Apa?!’
Pasien yang hendak ditangani tersebut didorong menuju ruang operasi melalui mereka bersama pendampingnya. Yvonne terkejut setengah mati. Ia mengenali sosok sang pasien darurat itu dan juga sosok sang pendampingnya.
Yvonne memandang sosok yang ia kenali itu dengan pandangan tidak percaya. Sepupunya sendiri, yang merampas kekasihnya dan teman-temannya dari dia karena pesonanya dan kekayaannya, muncul di hadapannya sebagai sosok yang berhasil. Ia kini sudah menikah dengan mantan kekasihnya dan hendak melahirkan anaknya. Sejalar rasa sakit yang samar bangkit di hatinya, makin lama rasa sakit dan tekanan itu bertambah. Yvonne mencengkeram gaunnya perlahan, berusaha menahan rasa sakit dan air matanya. Ray menoleh pada Yvonne.
‘Yvonne, kau… tidak apa? Aku dipanggil untuk melakukan operasi pada wanita itu. Kelihatannya kondisinya juga kritis, ia beresiko kehilangan anaknya. Aku diperintahkan untuk terjun ke dalam operasi karena aku dilatih untuk menghadapi operasi.’
Ray berbicara sambil melayangkan pandangannya pada sepupu Yvonne.
‘Kau… tidak keberatan jika kau mengayuh sendiri kursi rodamu dan kembali ke kamarmu? Waktuku tidak cukup untuk mengantarmu kembali…’
Tiba-tiba Yvonne mencengkeram ujung jubah dokter Ray.
‘Ray… Jangan pergi…’ katanya dengan suara tercekat.
Kebenciannya memuncak pada sepupunya itu. Sekarang kesempatan itu sudah tiba, nyawa sepupunya tak jauh berbeda dengan miliknya sekarang, di ujung tanduk.
‘Yvone… Aku harus…’ dalam hati, Ray hanyalah seorang dokter.
Yvonne tidak bisa menjelaskan kenapa ia tidak ingin Ray pergi dari sisinya sekarang. Ray harus menolong nyawa siapapun dan mengesampingkan perasaan pribadi mereka.
Dokter Ray segera pergi dengan tergopoh ke ruang operasi, meninggalkan Yvonne sendirian. Dalam hatinya berkecamuk juga perasaan bersalah pada gadis muda itu, terlebih itu pertama kalinya Yvonne memanggilnya ‘Ray’, bukan ‘Dokter’ seperti biasanya. Dokter Ray berusaha mengesampingkan semua hal itu dan mencoba berkonsentrasi pada operasi.
…
‘Yvonne? Kenapa kau menangis?’
‘Tidak.. aku tidak menangis….’
‘Kalau tidak kenapa ada air mata mengalir di wajahmu?’
Tyler mengambil saputangannya dan mengusap air mata Yvonne di wajahnya.
‘Nah, kau gadis yang jauh lebih cantik kalau tersenyum seperti ini… Jangan menyerah, Yvonne… Luka di tubuhmu pasti tidak akan terasa sakit sebentar lagi. Kau harus tabah mengalami semuanya, ya…’
Tyler mengelus kepala Yvonne perlahan dan merangkulnya.
‘Kau mau jadi kekasihku, Yvonne? Kujamin hidupmu akan berbahagia dan luka-lukamu tidak akan terasa sakit lagi denganku…’
Yvonne menangis sejadinya dan mengangguk tanda setuju.
…
‘Tyler!! Lihat!! Bonekanya lucu sekali!!’
‘Hahaha!! Ia mirip denganmu, Yvonne!!’
‘Aaah, Kau jahat sekali!!’
‘Eh? Tidak suka?’
Yvonne menggandeng tangan Tyler dengan erat, wajahnya merah dan panas.
‘Aku suka, kok… Aku senang bisa menghabiskan hari ini bersama Tyler…’
Tyler entah kenapa memandang gadis itu dengan perasaan yang bersalah. Sementara nada suara Yvonne yang menggandeng tangannya saat itu penuh dengan cinta…
…
‘Ah, itu Tyler, kan? Ty…’
Yvonne terkejut setengah mati. Tyler, kekasihnya, tengah berciuman dengan sepupunya sendiri yang selalu dibanding-bandingkan dengannya di dalam keluarganya. ‘
Tyler!!! Apa yang kau lakukan!!’
Tyler tersentak kaget dan seakan menjauhkan dirinya dari sepupu Yvonne tersebut mendengar teriakan dari Yvonne.
‘Ah, kau Yvonne… Kau sudah bertemu dengan tunanganku ini? Padahal malam ini aku baru mau mengenalkannya pada keluargamu!’
Yvonne tak dapat bicara apa-apa, tubuhnya gemetar dan air matanya hampir mengalir. Dengan nada suara yang serak, ia melanjutkan,
‘Tyler, apa semua ini… benar? Apa kau dan Nicole…’
‘Maafkan aku,Yvonne… Sejak awal, aku memang sudah jatuh cinta pada Nicole. Tidak ada urusan denganmu kecuali karena rasa kasihanku padamu, Yvonne…’
Yvonne menunduk dengan sedih, Tyler telah mempermainkan perasaannya. Dengan cepat ia berlari meninggalkan Tyler dan Nicole dan duduk di taman yang sepi untuk sekedar meratap. Ia terbatuk karena kelelahan akibat berlari dan dilihatnya bahwa tangan yang memegang mulutnya telah berlumur darah.
Sebenarnya, Yvonne sudah lama mengalami gejala itu, namun ia terpaksa tidak menceritakannya kepada siapapun demi kebaikannya juga. Hujan kemudian turun dengan derasnya, Yvonne kembali berjalan tanpa arah dan tujuan. Ia sudah tidak mungkin pulang, orangtuanya pasti akan menyiksanya lagi. Apalagi setelah tahu ia putus dengan kekasihnya, mereka pasti akan semakin menganggap Yvonne sebagai pengganggu dalam rumah mereka. Yvonne berjalan terhuyung-huyung dan akhirnya jatuh terjerembab di tengah hujan.
Sesaat sebelum kesarannya hilang, Yvonne mendengar sebuah suara halus memintanya untuk bertahan… Hanya suara itu saja harapannya untuk bertahan hidup saat itu…
…
Dokter Ray berhasil melaksanakan operasi dengan gemilang, bayi yang dilahirkan oleh Nicole selamat, dan seluruh keluarganya bersukacita karena hal itu. Sementara Yvonne yang mengayuh sendiri kursi rodanya ke dalam kamar tengah menangis sendirian, tanpa ada yang peduli padanya. Napasnya sesak, dan sesekali ia terbatuk mengeluarkan darah. Setelah mengucapkan selamat kepada keluarga yang baru saja mendapatkan anak pertamanya, Dokter Ray kembali ke ruang perawatan Yvonne untuk melaksanakan kewajibannya sebagai penanggung jawab Yvonne.
Selama perjalanan, Dokter Ray mendengar banyak suara di sekelilingnya. Dokter-dokter lain sibuk membicarakan mengenai Nocturne dalam tubuh Yvonne, sementara lainnya membahas mengenai kasus Nocturne yang tersebar di dunia. WHO akhir-akhir ini menyatakan bahwa Rumah sakit di seluruh dunia harus segera siap sedia untuk berperang melawan Nocturne. Virus itu kini rupanya telah menjadi isu terhangat di dunia saat ini dan merupakan senjata mematikan bagi umat manusia. Penelitian terbaru menyatakan bahwa virus itu menular kontak darah, yang berarti virus itu hampir sama tipenya dengan penyakit AIDS, barangkali saja modifikasinya…
‘Y..Yvonne!!!’
Dokter Ray terkejut setengah mati melihat Yvonne telah tergeletak lemah di tempat tidurnya dengan berlumuran darah.
‘Bodoh!! Kenapa kau tidak memanggil perawat?!’
Yvonne memandang Dokter Ray dengan matanya yang masih basah karena air mata.
‘Aku.. tidak mau…’
‘Yvonne!?’
‘Kau lebih memilih…nya… daripada.. aku…’
Susah payah Yvonne mencoba untuk berdiri dan cepat-cepat berlari keluar dari kamarnya, Dokter Ray berusaha mengejar Yvonne, namun Yvonne rupanya sangat ahli bersembunyi dari kejaran Dokter Ray, membuat Dokter Ray kebingungan juga untuk mengejarnya.
Hari menjelang tengah malam. Dokter lainnya telah bersiap pulang sementara Dokter Christine, sang ahli kimia masih meluruskan badannya sembari memperhatikan catatannya tentang reaksi-reaksi virus di tubuh Yvonne terhadap zat kimiawi. Ia menguap dan berjalan meninggalkan ruangan untuk pergi ke kamar kecil, rupanya ia sudah menahannya dari tadi namun sungkan di hadapan dokter lainnya.
Yvonne yang bersembunyi di balik tembok cepat-cepat menyelinap masuk begitu tahu Dokter Christine telah meninggalkan ruang penyimpanan obat kimia. Ia mengambil beberapa botol obat dan bersembunyi di tepian tembok agar tidak terlihat dari luar, memecahkan botolnya, membuka tutupnya, dan menenggak isinya sekaligus. Segera setelah ia menenggak semuanya, ia terjatuh lemas di lantai dengan pandangan mata yang kabur, ia terisak pelan di lantai sambil membayangkan Nicole danTyler. Hatinya sakit, pertama Tyler, sekarang Dokter Ray juga telah meninggalkannya. Ia memejamkan matanya dan berharap segera pergi dari dunia ini dengan tenang.
Dokter Ray tengah berlari mencari-cari Yvonne dan hampir putus asa menemukannya di sana, mungkin Yvonne sudah pergi meninggalkannya. Tapi kenapa? Mendadak Yvonne bertingkah drastis seperti itu yang belum pernah ia lakukan sebelumnya? Tiba-tiba suatu perasaan aneh merasuk di hati Dokter Ray, jantungnya berdegup kencang dan firasatnya mengatakan ada sesuatu di ruang penyimpanan obat.
‘Dokter Ray?’
‘Ah, Dokter Christine? Aku… Yvonne melarikan diri…’
‘Apa?! Ini gawat! Kita harus mencarinya sekarang juga!!’
‘Itu dia, aku tak dapat menemukannya di manapun…’
Dokter Christine berlari tergopoh-gopoh ke dalam ruang penyimpanan obat untuk mengenakan kemeja dokternya diikuti Dokter Ray di belakangnya.
‘Pokoknya kita harus menemukannya cepat-cepat atau…’
‘Dokter Christine!!’
Dokter Ray segera berlari menghampiri sesosok manusia yang tergeletak tak sadarkan diri di sudut ruangan, Yvonne yang ia cari-cari dari tadi.
‘Yvonne!! Sadarlah Yvonne!!’
‘Anak bodoh!! Ia menenggak begitu banyak obat dalam jumlah yang tidak main-main!! Ray, bawa dia ke ruang gawat darurat dan segera kumpulkan anggota NAT ke sana!!’
‘Siap!!’
Operasi untuk mengeluarkan obat-obatan dalam jumlah besar pada tubuh Yvonne segera dimulai. Sementara para dokter lainnya menangani Yvonne, Dokter Ray dimarahi habis-habisan oleh Dokter Austin dan Kohler, terutama.
‘Ray!! Dasar bodoh!!! Kau tidak bertanggung jawab!!! Kau mempertaruhkan nyawa seorang pasien tahu!!! Apa kau sadar Yvonne bisa saja meninggal lebih cepat karena perbuatanmu!?’
‘Kau sungguh ceroboh… Apa sikapmu yang seperti ini bisa dikatakan sebagai sikap seorang dokter…’
Dokter Ray menunduk dengan rasa bersalah yang amat dalam, jika terjadi sesuatu pada Yvonne, ia pasti dipecat, tidak bisa menjadi seorang dokter lagi selamanya.
‘Aku tahu aku salah, maafkan aku… Aku tak akan mengulanginya lagi…’
Dokter Ray membungkuk di hadapan Dokter Austin dan Dokter Kohler, ia tahu bagaimanapun ia meminta maaf, kesalahannya begitu fatal, tidak akan bisa dimaafkan.
‘Sudahlah, lagipula Dokter Ray hanya mencoba melakukan hal yang benar. Kita sedang kekurangan tenaga medis saat Dokter Ray meninggalkan Yvonne saat itu… ia yang menangani operasi darurat.’
‘…’
Dokter Christine mencoba menenangkan keadaan dan ia nampaknya berhasil melakukannya.
‘Baiklah, Ray… Kali ini saja kau kumaafkan. Tapi kalau sampai hal seperti ini terjadi lagi, aku tidak akan memaafkanmu…’
‘…Ya, Dokter Austin…’
Dokter Ray mendesah, kembali ke ruangan kerjanya dengan hati gundah. Dokter Christine juga sedang sibuk dan kesal gara-gara semua obat di ruang penyimpanan harus cepat diganti karena dianggap sudah tidak steril lagi. Satu hal yang membuatnya penasaran, Yvonne mengamuk tanpa disertai alasan yang jelas setelah ia tinggal untuk operasi darurat seorang ibu yang akan melahirkan. Selain itu Yvonne juga berteriak bahwa Ray lebih memilih ‘dia’ dibandingkan dirinya. Perasaan yang aneh merasuk dalam diri Dokter Ray, ada yang tidak beres. Mungkin saja pasien darurat yang ditangani olehnya memegang kunci bagaimana Yvonne bisa mengamuk mendadak seperti itu.
‘Pasien bernama Nicole Muller, seorang ibu muda yang baru menikah setahun yang lalu. Dikenal sebagai seorang jenius yang menyelesaikan pendidikannya lebih cepat dari biasanya…’
‘Itu saja? Apa ada catatan lain mengenai latar belakangnya?’
‘Hmm, barangkali nama suaminya? Apa itu bisa membantu?’
‘Siapa? Sebutkan saja…’
‘Tyler Locheart…’
‘Tyler?!’
‘Ya, benar… apa ada masalah?’
Dokter Ray berusaha mengingat, yang jelas nama Tyler tidaklah asing di pikirannya. Tyler…Tyler…
…
‘Sa..sakit…! Jangan.. pukul… Tyler… jangan.. pergi…’
…
‘Tyler! Ada sesuatu antara Tyler Locheart dan Yvonne!!’
‘Benarkah?!’
Suster Amanda tampak antusias mendengar dugaan dari Dokter Ray tersebut. Dengan teliti, ia mulai membaca lagi catatan medis Nicole Muller satu-persatu.
‘Dokter Ray… Kurasa jika Tyler Locheart memiliki hubungan dengan nona Yvonne, Nicole Muller pastinya juga memiliki hubungan dengannya. Aku akan mengurus masalah ini.’
‘Terima kasih, Amanda… Serahkan Yvonne padaku…’
‘Baik, Dokter. Tapi jangan terlalu memaksa nona Yvonne, aku khawatir penyakitnya akan semakin parah…’
Yvonne tergeletak lemas di ranjangnya, infus obat bergelantungan dan menyambung ke aliran darahnya, kepalanya pening dan hatinya masih sakit memikirkan Nicole. Yvonne mendengar suara pintu kamarnya dibuka dan seseorang masuk ke dalam.
‘Ah, Yvonne, bagaimana kabarmu?’
Itu Dokter Ray, dan Yvonne entah kenapa tidak ingin menemuinya saat ini, ia mengalihkan pandangannya dari Dokter Ray.
‘Yvonne, aku boleh tanya sesuatu?’
Yvonne terdiam sejenak dan menjawab dengan suara yang benar-benar pelan,
‘…apa?’
‘Kau kenal dengan Tyler Locheart dan Nicole Muller?’
Yvonne terkejut dan dengan cepat membalikkan badannya.
‘Ke..kenapa…?’
‘Aku pernah mendengar kau mengigau memanggil nama Tyler. Lagipula nama suami pasien darurat yang kutangani juga bernama Tyler. Kau mengamuk setelah aku menangani pasien darurat tersebut. Ini pasti bukan hanya suatu kebetulan…’
Jantung Yvonne berderap kencang, dengan cepat ia mengambil bantal di sampingnya dan melemparkannya kea rah Dokter Ray.
‘Keluar!!!’
‘Y..Yvonne…’
‘Keluar kataku!!! Aku tak ingin mendengar nama itu sekali lagi!!!’
Yvonne mengamuk dan melemparkan barang-barang di sampingnya. Dokter Ray dengan sigap menangkap tangan Yvonne dan berusaha menenangkannya.
‘Yvonne, sudah!!’
‘..ku…mohon…’
Dokter Ray terkesima, air mata Yvonne mengalir dengan derasnya.
‘..Aku… ingin pergi saja… di dunia ini tidak ada tempat bagiku…’
Suara Yvonne terdengar bergetar, Dokter Ray jadi merasa kasihan pada Yvonne dan mengendurkan cengkeramannya. Namun segera setelah ia mengendurkan cengkeramannya, Yvonne menampar wajahnya kuat-kuat dan membuatnya mundur ke belakang beberapa langkah.
‘Kalian semua para dokter sama saja!!! Kalian berkata dapat menyembuhkan penyakit apa saja dan mau menyembuhkannya!!! Tapi kalian tidak tahu sakit apa yang paling parah di dunia ini!! Kukatakan saja, Nocturne dalam tubuhku tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan sakit hatiku–!!’
Segera setelah berteriak sekuat tenaganya, Yvonne tercekat dan terbatuk, nafasnya sesak. Dokter Ray mengelus punggung Yvonne dan membiarkannya berbaring di tempat tidur. Yvonne mulai menangis lagi,
‘…Ray… Nicole… pergi…’ katanya terbata. Dokter Ray hanya mengangguk dan mengelus kepala Yvonne perlahan dan meninggalkannya sendirian di dalam ruangan.
‘Dokter Ray!! Aku menemukan sesuatu yang luar biasa dari penyelidikanku terhadap keluarga Nicole Muller!!’
‘Apa?! Benarkah!?’
Suster Amanda membuka file laporannya dan menyerahkannya kepada Dokter Ray.
‘Nicole Muller masih merupakan kerabat dari Yvonne Zen, lebih tepatnya… mereka sepupu. Dikatakan bahwa keluarga Muller adalah keluarga yang cukup berbahagia dan nyonya Nicole adalah kebanggaan yang membuat keluarga itu terpandang di antara kerabat-kerabatnya. Kemudian… saya mencoba mencocokkan tanggal pertunangan dan pernikahan resmi dari nyonya Nicole dan tuan Tyler. Tanggal pertunangan resminya… persis sama dengan hari di mana nona Yvonne masuk ke rumah sakit ini untuk rawat inap…’
Dokter Ray agak terkejut mendengar hal itu. Kepingan-kepingan puzzle tentang kehidupan Yvonne di dalam pikirannya semakin lengkap. Tinggal beberapa keping yang belum ia temukan, dan ia membutuhkan Yvonne sendiri untuk menceritakan padanya mengenai itu.
‘Terima kasih, Amanda. Eerr, bisa tolong panggilkan Raveev? Aku benar-benar membutuhkan bantuannya saat ini.’
‘Segera, dokter…’
((to be continued..? T_T kalo lagi mood aja…))
-blog ini aslinya ada di vigorosovia.multiply.com-
Posted in Uncategorized | No Comments »